Kisah Lukluk Sukses Kembangkan Momaira hingga Ekspor ke AS
Sektor penyelenggara acara atau event organizer menjadi salah satu bidang yang paling terdampak ketika pandemi COVID-19 melanda. Pembatasan aktivitas di luar rumah memaksa para pekerja di industri ini untuk segera memutar otak agar bisa bertahan hidup.
Kondisi tersebut dialami oleh Lukluk Ratrika, seorang pekerja event organizer yang kehilangan seluruh jadwal acaranya selama setahun penuh. Seperti dilansir dari Detikcom, Lukluk kemudian memutuskan untuk beralih ke usaha kuliner dengan merintis dagangan kue soes basah dan kering.
Bermodalkan relasi dengan orang-orang terdekat dan rekan kerja, usaha rumahan ini dimulai dari garasi rumahnya di Jalan Pulo Macan Raya, Tomang, Jakarta Barat. Kue soes dipilih karena memiliki daya tahan yang baik saat disimpan di dalam lemari es.
"Alhamdulillah diterima baik. Waktu COVID saya jualannya kan kue soes terutama waktu itu ya, nggak gorengan, jadi dia bisa disimpan di kulkas," ujarnya.
Setelah setahun berjalan, Lukluk memanfaatkan kemudahan pendaftaran UMKM dari pemerintah untuk mendapatkan Nomor Induk Berusaha pada 2021. Usaha kue soes tersebut kemudian resmi diberi merek Momaira.
"Waktu awal-awal merintis usaha terus terang aja kita kan asal jualan dulu deh, yang penting kita buat kue, jadi," kata dia.
Produk Momaira dipasarkan melalui WhatsApp bisnis, marketplace, serta berbagai pameran. Bisnis ini mencatatkan perkembangan signifikan setelah Lukluk bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta di Slipi pada tahun 2023.
"Gabung Rumah BUMN itu baru tahun 2023 kalau nggak salah, itu di RB (Rumah BUMN) yang di Slipi ya. Dari sana sering ikut pelatihan yang dilaksanakan secara gratis, ketemu coach-coach juga di sana, kita ikut mentoring segala macam. Jadi bisa berkembang lah baik dari pemasaran, digital, kemudian membangun tim usaha," kata Lukluk.
Melalui wadah binaan BRI tersebut, Lukluk mendapatkan berbagai materi mengenai digitalisasi bisnis, pembuatan toko online, hingga strategi promosi menggunakan kecerdasan buatan.
"Dari Rumah BUMN itu banyak sekali mendatangkan narasumber-narasumber itu terutama untuk digitalisasi bisnis. Jadi kita diarahkan untuk punya toko online, ikut marketplace, terus bagaimana kita buat promosi dengan bantuan AI. Sampai kalau misalnya kita perlu coach untuk secara keseluruhan membangun bisnis kita, mereka ada pelatihannya dari Rumah BUMN," ujar dia.
"Rumah BUMN juga memberikan kesempatan kita untuk show product gitu. Itu dipajang. Jadi kalau misalnya ada kunjungan-kunjungan ada yang tertarik bisa order," sebut dia.
Kini, produk Momaira semakin dikenal dan sering dijadikan oleh-oleh untuk dibawa ke luar kota seperti Yogyakarta, Bali, dan Makassar. Bahkan, kue soes keringnya telah dibawa oleh konsumen ke Malaysia, Australia, hingga Amerika Serikat.
"Saya kuenya banyak sama orang-orang dibawa buat oleh-oleh. Bahkan hari ini saya dipesen 15 lusin untuk farewell orang dari kantor, mereka pakai kue soes. Atau orang mau keluar kota karena kue soes saya itu tahan 10 jam di suhu ruang. Kalau flight cepet bisa sih, udah dibawa ke Jogja, Bali, Makassar untuk soes basahnya," sebut Lukluk.
"Soes keringnya udah handcarry ke berbagai negara," imbuh dia.
Keberhasilan menembus pasar internasional ini berawal dari kerabatnya yang membawa produk tersebut ke luar negeri, termasuk pengiriman satu koper kue soes kering ke Amerika Serikat.
"Jadi ceritanya temen saya ada yang tinggal di Malaysia. Dia nyicipin waktu kita kumpul di sini terus akhirnya dia order, 'Nih, daripada bingung bawa ole-oleh dari Indonesia apa, nih dibawain aja deh'. Dia pesen 2 lusin soes kering toplesan, dia bawa ke Malaysia.
Ternyata ada juga saudaranya temen itu juga bawa ke Australia. Terus Januari-Februari kemarin sebelum puasa dibawa 1 koper isinya kue soes semua ke Amerika dong," sebut dia.
Perkembangan usaha ini juga terlihat dari kenaikan omzet bulanan yang semula hanya Rp 3 juta hingga Rp 5 juta saat pandemi, kini mencapai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan, bahkan sempat menyentuh angka Rp 30 juta.
"Awal jualan yang penting hari ini ada pemasukan, waktu dulu ya, kan kita harus survive dari COVID ini, anak-anak di rumah semua. Ya ada aja sih alhamdulillah. Misalnya dulu waktu zaman COVID mungkin per bulan itu Rp 3 sampai Rp 5 juta, itu juga sudah alhamdulillah," katanya.
"Sempet peak banget dulu waktu tahun 2023-2024 lumayan tinggi karena ekonomi kan lebih baguslah dibanding sekarang. Terus terang 2026 ini saya agak turun. Waktu dulu itu sempet kayak Rp 25, Rp 30 juta sebulannya.
Kalau sekarang mungkin berada di Rp 10 sampai Rp 15 (juta) lah, tergantung situasinya. Kalau lebaran sama akhir tahun kan saya membuat hampers-hampers gitu," tuturnya.
Koordinator Rumah BUMN Jakarta, Jajang Rohmana, menyatakan bahwa pelatihan yang diberikan berkomitmen penuh untuk mendorong pelaku UMKM naik kelas melalui pendampingan digital dan perluasan pasar.
"Di Rumah BUMN, para pelaku usaha atau UMKM mendapatkan pelatihan untuk mempertajam skill kewirausahaan, pendampingan digital, hingga akses permodalan dan jejaring pasar," ujar Jajang.
"Setiap senyuman dari pelaku UMKM yang berhasil naik kelas adalah energi bagi kami," imbuh dia.