Kimia Farma Raih Laba Bersih Rp54 Miliar Semester I 2026
PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) membalikkan kinerja keuangan dengan mencetak laba bersih sebesar Rp54,07 miliar pada semester I-2026. Capaian positif ini terjadi berkat pertumbuhan penjualan neto perseroan, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Rabu (5/8/2026).
Hasil unaudited tersebut mencatatkan pemulihan signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu saat perusahaan menanggung rugi bersih Rp135,61 miliar. Penjualan neto perseroan tumbuh 7,6 persen menjadi Rp4,70 triliun dari sebelumnya Rp4,36 triliun.
Laba usaha BUMN farmasi ini melesat 111,3 persen menjadi Rp152,21 miliar dari periode semester I-2025 yang tercatat Rp72,01 miliar. Kenaikan ini ditopang oleh penguatan fundamental bisnis dan pembenahan operasional internal.
"KAEF dengan dukungan dan arahan Danantara terus memperkuat fondasi bisnis melalui pengelolaan portofolio, efisiensi operasional, penguatan produksi, dan perbaikan tata kelola. Kinerja positif pada Semester I-2026 menunjukkan bahwa proses transformasi berjalan ke arah yang lebih sehat dan terukur. Dengan bisnis yang semakin sehat, KAEF memiliki ruang yang lebih kuat untuk mendukung ketersediaan obat, layanan kesehatan, dan program prioritas nasional," ujar Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam dalam keterangan tertulis.
Meski kinerja finansial membaik, perseroan masih menghadapi tantangan biaya akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan harga bahan baku dan bahan kemas impor terus memicu tekanan terhadap biaya produksi serta stabilitas rantai pasok.
"Meski begitu, Djagad mengatakan dinamika geopolitik di Timur Tengah masih memberi tekanan kepada KAEF, utamanya kenaikan harga bahan baku dan bahan kemas yang sebagian masih bersumber dari impor. KAEF juga terus mencermati perkembangan kondisi tersebut, termasuk dampaknya terhadap stabilitas rantai pasok dan biaya produksi."
Untuk menjaga keberlanjutan bisnis dan margin profit, emiten farmasi ini menempuh langkah efisiensi lanjutan serta penyesuaian harga produk secara terukur. Rasio beban usaha terhadap penjualan berhasil ditekan dari 34,2 persen pada semester I-2025 menjadi 33,2 persen pada semester I-2026.
Transformasi bisnis secara bertahap terus digulirkan melalui enam fokus utama, yakni ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi SDM, digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan (GCG), serta sinergi antar-entitas dalam Kimia Farma Group.