Kesepakatan AS-Iran Buka Selat Hormuz Dorong Lonjakan Saham Wall Street

Share

Kesepakatan pembukaan Selat Hormuz memicu lonjakan harga saham sektor berisiko tinggi di bursa Amerika Serikat dan penurunan harga minyak pada Senin (15/6/2026), seiring meredanya kekhawatiran perang, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Penguatan pasar modal ditunjukkan oleh indeks S&P 500 yang naik 1,7% dan Nasdaq 100 melonjak hingga 3,1%. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average sukses mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Kondisi positif ini didukung oleh penutupan harga minyak mentah AS di bawah US$81 yang meredakan kekhawatiran inflasi. Nilai surat utang AS dan dolar bergerak mendatar, sementara spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve mulai mereda.

Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance menandatangani salinan elektronik nota kesepahaman dengan Iran. Trump menyatakan Selat Hormuz sudah terbuka sebagian dan akan dibuka sepenuhnya pada Jumat pekan ini saat bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Respons positif datang dari pelaku pasar modal yang melihat momentum ini sebagai akhir dari ketidakpastian geopolitik global. Langkah tersebut dinilai memberikan angin segar bagi stabilitas ekonomi ke depan.

"Kesepakatan antara AS dan Iran merupakan terobosan besar dan hal positif bagi pasar, karena tarik-ulur dalam negosiasi hanya menimbulkan ketidakpastian dan volatilitas tambahan," kata Michael Landsberg, dari Landsberg Bennett Private Wealth Management.

Meskipun poin penghapusan bahan nuklir Iran berpotensi memicu kemelut lanjutan, Landsberg menilai pembukaan selat akan tetap menekan harga minyak. Ketahanan kesepakatan ini menjadi fokus utama para analis selanjutnya.

"Volatilitas mungkin akan berlanjut dalam jangka pendek saat pasar menilai implementasi dan ketahanan kesepakatan tersebut, namun kami tetap pada pandangan bahwa pertumbuhan yang tangguh dan laba yang kuat seharusnya terus mendorong kenaikan saham," kata Ulrike Hoffmann-Burchardi, dari UBS Chief Investment Office.

Strategis Morgan Stanley yang dipimpin Michael Wilson menambahkan bahwa saham AS berpeluang mendapat dorongan dari pergeseran ke sektor sensitif ekonomi. Sektor-sektor siklikal yang tertinggal selama perang diperkirakan akan memimpin penguatan.

Mislav Matejka dari JPMorgan Chase & Co. menerangkan pergeseran ke sektor siklikal berpotensi menjadi strategi menguntungkan hingga akhir tahun. Syaratnya adalah ketegangan geopolitik mereda serta laba dan inflasi tetap stabil.

"Kami percaya meredanya ketegangan geopolitik dapat membantu meredakan tekanan inflasi dan membantu menurunkan imbal hasil obligasi, yang berpotensi mendorong pergeseran ke sektor siklikal dan area pasar yang sebelumnya tertinggal," kata Angelo Kourkafas, dari Edward Jones.

Chris Larkin dari ETrade menyebut pasar saham akan segera mencari sumber momentum baru setelah mendapat dorongan dari kesepakatan ini. Momentum tersebut diperkirakan datang dari arah kebijakan jangka panjang Ketua Fed yang baru.

"Pasca mengawali pekan ini dengan dorongan dari kesepakatan AS-Iran, pasar saham akan segera mencari sumber momentum baru," kata Chris Larkin, dari ETrade (Morgan Stanley).

Para pedagang swap kini memperhitungkan peluang yang lebih rendah untuk kenaikan suku bunga pada Desember seiring penurunan harga minyak. Pengumuman kebijakan berikutnya oleh bank sentral AS dijadwalkan berlangsung pada Rabu pekan ini.

Ekonom memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran 3,5% hingga 3,75%. Keputusan ini diambil sambil menunggu dampak guncangan harga energi akibat perang terhadap perekonomian secara menyeluruh.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author