Kenali Infertilitas Sekunder dan Berbagai Pilihan Cara Mengatasinya
Banyak pasangan suami istri yang telah dikaruniai anak pertama ternyata menghadapi kesulitan untuk mendapatkan kehamilan kedua. Kondisi medis ini dikenal dengan istilah infertilitas sekunder.
Infertilitas sekunder merupakan keadaan ketika pasangan suami istri kesulitan memicu kehamilan lagi setelah sebelumnya sempat memiliki anak. Dilansir dari HaiBunda, sebuah studi meta-analisis dalam jurnal Fertility Research and Practice menunjukkan angka kejadian kondisi ini hampir sama dengan infertilitas primer.
Penelitian tersebut mendapati sekitar 49,79 persen kasus ketidaksuburan tergolong sebagai infertilitas sekunder. Studi itu memaparkan bahwa kesuburan dapat bergeser seiring bertambahnya usia, status kesehatan tubuh, hingga pengaruh pola hidup.
Terdapat beragam faktor yang memicu terjadinya infertilitas sekunder pada pasangan suami istri. Faktor usia menjadi salah satu penyebab utama menurunnya tingkat kesuburan perempuan karena kualitas dan jumlah sel telur yang merosot.
Riset mengenai cadangan sel telur manusia memperlihatkan bahwa perempuan berusia 30 tahun rata-rata memiliki sisa sel telur sekitar 12 persen dari jumlah maksimal saat lahir. Angka ini bakal menurun semakin drastis ketika melewati usia 40 tahun.
Gangguan ovulasi yang tidak teratur juga membuat sel telur sulit dibuahi, biasanya dipicu oleh hormon, stres, berat badan berlebih, atau sindrom ovarium polikistik (PCOS). Selain itu, kondisi endometriosis atau tumbuhnya jaringan mirip lapisan rahim di luar rahim dapat mengganggu kesuburan dan memicu nyeri haid hebat.
Masalah pada organ reproduksi seperti saluran tuba yang tersumbat, perlengketan, miom, atau polip rahim turut menghambat pertemuan sperma dan sel telur. Studi Fertility Research and Practice menyebutkan gangguan saluran reproduksi perempuan termasuk pemicu paling umum.
Faktor ketidaksuburan tidak hanya berasal dari pihak perempuan, melainkan bisa karena penurunan kualitas, jumlah, bentuk, atau pergerakan sperma. Pola hidup seperti berat badan berlebih, kebiasaan merokok, kurang tidur, konsumsi alkohol, hingga stres ikut memengaruhi kesuburan.
Penelitian dari Universitas Gadjah Mada juga menemukan bahwa faktor gaya hidup serta riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal dapat memengaruhi risiko terjadinya infertilitas sekunder.
Langkah Evaluasi Medis dan Diagnosis
Evaluasi dini menjadi poin penting untuk menentukan metode pengobatan yang tepat bagi pasangan yang mengalami infertilitas sekunder. Pasangan dapat berkonsultasi dengan ahli endokrin reproduksi atau ahli urologi untuk meninjau riwayat medis.
Proses diagnosis ketidaksuburan ini melibatkan beberapa rangkaian pemeriksaan medis spesifik. Langkah pengujian tersebut meliputi analisis air mani, tes darah untuk memantau kadar hormon, USG transvaginal, serta hysterosalpingogram menggunakan sinar-X guna memeriksa rahim dan saluran tuba.
Pilihan Metode Perawatan Kesuburan
Secara umum, penanganan medis untuk kasus infertilitas sekunder sama dengan infertilitas primer. Pilihan penanganan pertama meliputi pemberian obat-obatan seperti clomiphene atau letrozole guna menginduksi ovulasi bagi perempuan yang siklusnya tidak teratur.
Metode berikutnya adalah inseminasi intrauterin (IUI) yang dilakukan dengan menempatkan sperma langsung di dalam rahim untuk mendongkrak peluang pembuahan. Tindakan pembedahan juga dapat diambil untuk memperbaiki komplikasi rahim seperti mengangkat jaringan parut, polip, dan miom.
Bagi pihak pria, tindakan pembedahan bisa diterapkan untuk menyembuhkan varikokel testis yang menjadi penyebab ketidaksuburan paling korosif pada pria. Pilihan alternatif mutakhir lainnya adalah melalui program In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung.
Program IVF merupakan proses kompleks yang berjalan dengan mengambil sel telur dari ovarium untuk kemudian digabungkan secara manual dengan sperma di dalam laboratorium. Setelah pembuahan berhasil, embrio hasil laboratorium tersebut dipindahkan ke dalam rahim pasangan.