Pertamina dan Swasta Naikkan Harga BBM Nonsubsidi per Juni 2026

Share

Sejumlah badan usaha penyedia Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti PT Pertamina (Persero), BP-AKR, dan Vivo Indonesia kompak menaikkan harga produk nonsubsidi mereka sejak Rabu, 10 Juni 2026. Penyesuaian ini dipicu oleh tingginya harga minyak mentah global dan pergerakan pasar keekonomian internasional.

Dilansir dari CNBC Indonesia dan Bisnis.com, tarif Pertamax (RON 92) di wilayah DKI Jakarta kini melonjak menjadi Rp16.250 per liter dari harga sebelumnya Rp12.300. Sementara itu, varian Pertamax Green 95 merangkak naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter, sedangkan komoditas bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar dipastikan tidak mengalami perubahan harga.

Kenaikan harga ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah selaku regulator melalui mekanisme evaluasi berkala yang ketat. Manajemen menyatakan bahwa kebijakan tersebut diambil sebagai langkah krusial demi menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," ujar Roberth dalam siaran persnya, dikutip Senin (21/6/2026).

Manajemen menambahkan bahwa nominal tarif baru yang berlaku saat ini sebenarnya masih berada di bawah nilai keekonomian pasar yang sesungguhnya. Kebijakan untuk tidak langsung melimpahkan beban biaya penuh kepada konsumen sengaja ditempuh guna melindungi daya beli publik.

"Saat ini penyesuaian kenaikan harga Pertamax masih di level sekitar 50% dari harga keekonomian. Di mana dengan RON lebih tinggi dan kualitas lebih baik, harga Pertamax pasti di atas Pertalite secara keekonomian," kata Roberth saat dihubungi detikOto.

Sebelum keputusan ini diambil, pihak otoritas sempat melakukan intervensi guna menahan gejolak harga komoditas pada periode krusial sebelumnya. Penahanan harga tersebut dilakukan sepanjang awal tahun demi menjaga iklim ekonomi domestik.

"Pemerintah berkoordinasi dengan Pertamina agar tidak dilakukan penyesuaian harga per 1 April 2026. Harga Pertamax ditahan untuk tidak naik," ungkap Roberth.

Formulasi tarif jalan tengah ini sengaja dirancang agar tidak mengganggu performa fiskal negara secara drastis. Seluruh korporasi swasta penyedia bahan bakar di dalam negeri terpantau langsung mengimplementasikan kebijakan serupa.

"Per tanggal 10 Juni kemarin dilakukan penyesuaian harga jual Pertamax dalam rangka mengamankan daya beli dan ekonomi, serta menyesuaikan agar beban fiskal pemerintah dan badan usaha tetap kondusif," jelasnya lagi.

Otoritas menekankan adanya andil serta kontribusi besar dari jajaran eksekutif dan negara dalam penentuan tarif akhir yang dibebankan kepada masyarakat. Penyesuaian ini diklaim tetap memperhitungkan parameter daya dukung finansial domestik.

"Harga yang disesuaikan juga tidak sepenuhnya mengikuti harga keekonomian berbasis harga pasar atau internasional. Poin penting saat ini adalah bahwa harga Pertamax saat ini ada peran pemerintah di dalamnya, dan juga Pertamina," pungkasnya.

Di sisi lain, manajemen operasional mengungkapkan bahwa harga riil varian RON 92 di pasar internasional akibat ketegangan geopolitik global sebenarnya sudah menyentuh angka di atas Rp20.000 per liter. Upaya menahan harga lama di level Rp12.300 telah dilakukan dalam kurun waktu yang sangat lama.

"Pertamax RON 92 kebetulan di market itu karena kondisi geopolitik kemarin itu naik, RON 92 itu kalau di market itu udah harganya Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300," kata Sigit dilansir CNBC Indonesia.

Kenaikan harga ini sekaligus menjadi pesan kepada para konsumen mengenai urgensi penyesuaian tarif demi menjamin kepastian pasokan. Perbandingan dengan negara tetangga memperlihatkan harga BBM sejenis berkisar antara Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter.

"Teman-teman bisa melihat di market internasional di tetangga sebelah negara lain itu RON 91, 92 itu di Rp 20.000, Rp 21.000. Jadi kita ingin memberikan message bahwa ini memang perlu naik kepada konsumen karena kondisinya memang harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di pasar," tutur Sigit.

Perubahan sektor energi ini langsung memicu respons dari otoritas moneter terkait potensi rambatan terhadap indikator makroekonomi nasional. Bank Indonesia mengonfirmasi adanya risiko rambatan global yang bersumber dari imported inflation.

"Faktor risiko inflasi yang menjadi perhatian adalah rambatan global, yaitu harga minyak dan komoditas ke dalam negeri atau imported inflation. Yang kedua, ini belum terjadi tetapi kita sudah alert untuk menghadapinya, yaitu gangguan cuaca," ujar Aida dalam konfrensi pers, belum lama ini.

Tekanan harga dari administered prices ini diperkirakan menyumbang andil sekitar 0,25% terhadap laju inflasi. Meski demikian, bank sentral menegaskan bahwa akumulasi indeks harga konsumen secara keseluruhan diproyeksikan tetap aman.

"Proyeksi inflasi memang mulai mengalami peningkatan, tetapi seluruhnya masih berada dalam target inflasi 2,5% plus minus 1%. Jadi paling tinggi 3,5% dan itu masih dalam target," katanya.

Menguatkan hal itu, data internal menunjukkan realisasi inflasi tahunan per Mei 2026 masih terjaga di level 3,08%. Kendati begitu, perhatian ketat dialihkan pada pergerakan harga pangan hortikultura di daerah yang rentan bergejolak akibat faktor eksternal.

"Kami mencermati sejumlah faktor risiko yang dapat memberikan tekanan inflasi ke depan, yaitu imported inflation dan faktor cuaca," ujar Ricky.

Kombinasi antara tekanan harga energi global dan potensi anomali iklim menjadi tantangan utama yang diantisipasi di wilayah Indonesia Timur. Penurunan produktivitas pertanian menjadi risiko sekunder yang diwaspadai.

"Intensitas El Nino diperkirakan meningkat dan dapat menurunkan produktivitas hortikultura di beberapa wilayah, khususnya kawasan Indonesia Timur," jelasnya.

Dilansir dari Kompas.com, fluktuasi harga BBM nonsubsidi di luar Jawa dan Bali mengalami variasi nominal akibat perbedaan tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) di masing-masing provinsi. Di wilayah Sumatra Utara, Jambi, dan Lampung, harga Pertamax tercatat berada di angka Rp16.650 per liter, sementara di kawasan Riau dan Kepulauan Riau mencapai Rp17.000 per liter.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author