Kenaikan Biaya dan Kelangkaan Solar Ganggu Produksi Sawit di Kalimantan dan Sumatra

Share

Kenaikan biaya operasional dan kelangkaan bahan bakar jenis solar mengganggu aktivitas panen kelapa sawit di wilayah Kalimantan dan Sumatra, dua pusat produksi utama di Indonesia dan Malaysia, yang berpotensi menekan pasokan dan produksi minyak sawit.

Menurut Reuters, gangguan ini bertepatan dengan prakiraan cuaca El Nino yang akan menurunkan curah hujan dan hasil panen. Harga minyak sawit di Malaysia juga meningkat lebih dari 15% sepanjang tahun ini.

Napolean R Ningkos dari Sarawak Dayak Oil Palm Planters Association menyatakan, "Tekanan keuangan membuat petani kecil tidak mampu memanen, sehingga lahan berisiko terbengkalai dan produktivitas sawit secara langsung menurun." Kelangkaan solar dan kenaikan harga di Sabah dan Sarawak mencapai hampir 120%, sementara di Sumatra pasokan solar terbatas sejak pertengahan Juli 2026.

Napolean menambahkan bahwa kuota solar bersubsidi di Malaysia hanya 200 liter per bulan, jauh di bawah kebutuhan rata-rata petani yang mencapai 500 liter per bulan, menyebabkan pengurangan frekuensi panen dari 2,5 kali menjadi satu hingga dua kali sebulan.

Presiden United Sabah Smallholders Association, Raphael Golout, menyoroti tekanan biaya petani yang juga meningkat untuk kebutuhan listrik dan mesin pendukung.

Raphael dan Napolean meminta pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan subsidi solar agar lebih sesuai dengan kondisi medan berat di pedalaman Sabah dan Sarawak.

Di sisi lain, Gulat Manurung, Ketua kelompok petani kecil APKASINDO, menyatakan, "Pengangkutan tandan buah petani terdampak karena seluruh kendaraan dan peralatan yang digunakan menggunakan mesin diesel," yang memperpanjang interval panen menjadi delapan hingga 12 hari dari biasanya delapan hingga 10 hari.

Wakil Sekretaris Jenderal GAPKI, Lolita Bangun, menyatakan kenaikan biaya pupuk hingga 30% sejak Maret 2026 akibat pembatasan ekspor dari Cina dan kenaikan harga BBM hampir dua kali lipat menjadi Rp29.000 per liter telah berkontribusi pada melonjaknya biaya operasional industri sawit.

Menurut Lolita, gangguan di Timur Tengah juga mempengaruhi logistik internasional, termasuk pemilihan rute pelayaran yang lebih panjang dan kenaikan premi asuransi, yang menaikkan biaya logistik dan asuransi hingga 50% dibanding kondisi normal.

Kombinasi produksi yang melambat di bawah 2% akibat El Nino dan peningkatan konsumsi domestik oleh program biodiesel B50, yang membutuhkan tambahan sekitar 1,9 juta ton CPO dibanding B40 tahun sebelumnya, menjadi tantangan utama industri sawit Indonesia sepanjang 2026.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan pentingnya penguatan ekosistem hulu hingga hilir untuk mendukung pengembangan industri sawit yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat.

Rachmat mengatakan, "Hilirisasi tidak bisa jalan jika ekosistem tidak berkembang, hilirisasi tidak jalan jika hulu tidak diurus dengan baik." Ia menambahkan bahwa perencanaan pembangunan yang baik harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Sekdaprov Riau, Syahrial Abdi, menekankan bahwa peningkatan produksi sawit tidak harus melalui perluasan lahan, melainkan dengan meningkatkan produktivitas kebun yang sudah ada sekaligus menjaga lingkungan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author