Kementerian ESDM Ungkap Penyebab Kenaikan Harga Gas Industri

Share

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan alasan di balik lonjakan harga gas untuk sektor industri penerima Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Sektor tersebut terpaksa menggunakan liquified natural gas (LNG) hasil regasifikasi demi memenuhi kebutuhan energi mereka.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa pergerakan harga LNG sangat terikat dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia serta dinamika global saat ini.

Kondisi pasokan gas bumi hulu dipadukan dengan kebutuhan sektor manufaktur dibahas bersama dalam pertemuan antara Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, SKK Migas, dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) atau PGN.

"[Hal] yang pertama, kita perlu memahami bahwa kondisi saat itu kan, kondisi yang kita hadapi ini kan kondisi yang tidak biasa. Harga tiba-tiba crude-nya naik, sehingga yang lain pun harus disesuaikan. Semoga dengan kondisi yang makin kondusif, kita berharap ini kemudian penurunannya, akan ada penurunan dari harga seperti itu," kata Laode.

Pemerintah berupaya memetakan ketersediaan pasokan energi hulu agar sejalan dengan serapan sektor industri nasional.

"Jadi, jangan sudah terjadi kekurangan baru industrinya melakukan klaim bahwa 'Oh, ini kita kekurangan HGBT nih', padahal belum tentu seperti itu kenyataannya," ujar Laode.

Kendati besaran perbedaan tarif antara gas pipa dan LNG tidak dibeberkan, harga LNG hasil regasifikasi dinilai membebani pelaku usaha penerima HGBT.

Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menyatakan pasokan gas pipa dari PGN sepanjang Januari hingga Mei 2026 mengalami penurunan signifikan.

Realisasi Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) dilaporkan hanya mencapai 47,5 persen, sehingga sisa kebutuhan manufaktur mesti ditutup melalui regasifikasi LNG berbiaya tinggi.

Edy menyebut harga LNG regasifikasi saat ini menyentuh kisaran US$20,5 per million british thermal unit (MMBtu).

Kenaikan harga komponen ini membuat industri keramik harus menanggung biaya gas rata-rata sebesar US$15 hingga US$16 per MMBtu, hampir dua kali lipat dari ketentuan HGBT senilai US$7 per MMBtu.

"Daya saing industri akan terus tergerus dan utilisasi kapasitas produksi akan menurun," ujar Edy.

Asaki mengandalkan data PGN yang memproyeksikan potensi penurunan AGIT di bawah 30 persen pada Juni 2026.

Pelaku usaha dapat bertahan jika tarif gas berada pada rentang US$7 sampai US$9 per MMBtu, setara dengan biaya operasional pabrik di Malaysia dan Thailand.

Edy memprediksi rentang angka tersebut bisa dicapai andai realisasi AGIT minimal berada di level 80 persen dengan sisa kebutuhan dipenuhi dari LNG.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi penurunan lifting gas bumi berimbas pada terpangkasnya volume pasokan yang disalurkan lewat skema HGBT.

Akibatnya, pelaku usaha yang mulanya mendapat jatah gas pipa khusus harus beralih memakai LNG kiriman dari Maluku, Sulawesi, Papua, hingga Kalimantan.

Proses regasifikasi komoditas tersebut yang menyebabkan harga jual akhir ke konsumen menjadi lebih tinggi daripada tarif gas bumi biasa.

"Karena terjadi penurunan lifting, kemudian kekurangannya itu diisi dengan LNG yang diambil dari Maluku, Sulawesi, Papua, dan Kalimantan. Itu yang membuat harga ada penyesuaian," kata Bahlil.

Bahlil memastikan pemerintah tidak akan mengambil opsi pengalihan kuota ekspor LNG untuk dialokasikan ke pasar domestik.

"Aman semuanya. Enggak ada yang dipotong untuk ekspor. Ekspor sudah oke semua," tegas Bahlil.

Ketentuan tarif HGBT dalam Kepmen ESDM No.76/2025 menetapkan biaya sebesar US$6,5 hingga US$7 per MMBtu bagi tujuh sektor industri, meliputi pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet.

Keputusan menteri tersebut membedakan pemanfaatan gas bumi menjadi US$7 per MMBtu untuk bahan bakar dan US$6,5 per MMBtu untuk bahan baku.

Di pasar internasional, harga LNG acuan Eropa terkerek naik tipis dipicu insiden serangan kapal kargo di Selat Hormuz yang memunculkan kekhawatiran pasokan energi di jalur pelayaran global.

Harga kontrak berjangka merangkak naik hingga 1,6 persen setelah sempat melandai pada dua sesi perdagangan sebelumnya.

Harga komoditas LNG di Benua Biru bertahan 25 persen lebih tinggi dibanding periode sebelum konflik pecah, seiring kekhawatiran lambatnya pengisian tangki penyimpanan gas menjelang musim dingin.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author