Kementerian Agama Tetapkan Idul Adha 2026 Jatuh pada 27 Mei
Kementerian Agama menetapkan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, berdasarkan hasil sidang isbat di Jakarta pada Minggu, 17 Mei 2026. Keputusan tersebut menandai awal 1 Zulhijah 1447 Hijriah yang dimulai pada Senin, 18 Mei 2026.
Melalui ketetapan penanggalan tersebut, umat Muslim dapat menjalankan rangkaian puasa sunnah sebelum Idul Adha. Puasa Zulhijah berlangsung selama tujuh hari pada 18 hingga 24 Mei 2026, dilanjutkan puasa Tarwiyah pada Senin, 25 Mei 2026, dan puasa Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026.
Peningkatan amal saleh dan ibadah sunnah di bulan Dzulhijjah sangat dianjurkan bagi seluruh umat Muslim. Momentum sepuluh hari pertama bulan ini memiliki nilai pahala besar dan menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan ketakwaan.
Penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Beduai, Deni Juanda, menyampaikan pandangannya mengenai keutamaan bulan ini dalam program Obrolan Mutiara Pagi Islam di RRI Entikong pada Rabu, 20 Mei 2026.
"Keutamaan bulan Dzulhijjah terletak pada banyaknya kesempatan bagi umat Muslim untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak amal saleh, serta mendekatkan diri kepada Allah melalui puasa, dzikir, sedekah, dan ibadah kurban," ungkap Deni.
Pelaksanaan ibadah kurban pada bulan Dzulhijjah juga dinilai Deni memiliki makna penting dalam memperkuat nilai keikhlasan dan semangat berbagi kepada sesama. Selain sebagai bentuk ketaatan, kurban mampu mempererat rasa kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.
"Dengan memanfaatkan bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan ini secara maksimal, umat Muslim diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan, memperoleh pahala berlipat, serta memperkuat kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Anjuran memperbanyak amal saleh ini sejalan dengan hadis riwayat Bukhari yang menegaskan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi amal saleh pada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijah).”
Keagungan hari-hari tersebut juga diperkuat oleh hadis riwayat Ahmad mengenai kecintaan Allah terhadap amal shalih di dalamnya.
"Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya dari pada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah)."
Kompas.com melansir bahwa pelaksanaan puasa sunnah ini mengikuti tata cara puasa pada umumnya, seperti membaca niat sebelum Subuh dan menahan diri dari hal yang membatalkan. Selain itu, umat Muslim dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir.
Khusus untuk puasa Arafah pada 9 Zulhijah, ibadah ini dilaksanakan bersamaan dengan wukuf jamaah haji di Padang Arafah. Keutamaan puasa ini ditegaskan dalam hadis riwayat Muslim.
“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
Meskipun memiliki keutamaan besar bagi yang tidak berhaji, mayoritas ulama memandang jamaah haji tidak dianjurkan menjalankan puasa Arafah. Larangan ini bertujuan agar kondisi fisik jamaah tetap kuat saat menjalani wukuf dan rangkaian ibadah haji lainnya.