Kemenperin Catat Pendanaan Startup Indonesia Turun 49 Persen
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat pendanaan startup nasional sepanjang tahun 2025 anjlok hingga 49 persen menjadi US$ 355 juta atau sekitar Rp 6,09 triliun, dilansir dari Detik Finance pada Kamis (6/8/2026). Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa angka tersebut merosot dibanding tahun 2024 yang mencapai US$ 695 juta atau Rp 12,45 triliun, serta jauh di bawah puncak investasi tahun 2021 sebesar US$ 7 miliar. "Ada sebuah report, Indonesia Startup Report 2026, ini mencatat pendanaan startup nasional sepanjang 2025 hanya US$ 355 juta, tapi yang lebih harus menjadi perhatian kita, angka tersebut turun dibandingkan tahun sebelumnya 2024, turun 49% yang pada tahun 2024 tercatat US$ 695 juta dan sangat jauh dari puncak investasi yang pernah kita catat di Indonesia pada tahun 2021 yang pernah mencatat angka US$ 7 miliar," ungkap Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026).
Data DealStreetAsia memperlihatkan porsi pendanaan startup Indonesia hanya menyumbang 6,3 persen di Asia Tenggara dengan nilai US$ 0,34 miliar dari 66 transaksi, sementara Singapura memimpin kawasan lewat pendaaan US$ 4,20 miliar dari 283 transaksi.
Di tingkat global, data Crunchbase mencatat pendanaan semester pertama 2026 mencapai US$ 510 miliar, namun startup Indonesia tercatat menghimpun kurang dari 0,1 persen dari total pendanaan dunia tersebut dalam setahun penuh. "Ini berarti dalam satu tahun penuh, startup Indonesia hanya memperoleh kurang dari 0,1% dari apa yang mengilir kepada stratrup-startup di dunia pada satu semester," terangnya.
Meskipun terjadi penurunan tajam, Kemenperin menganggap kondisi ini sebagai peluang bagi pelaku industri dalam negeri untuk menggaet modal internasional secara lebih optimal. Pemerintah mendorong para pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kelayakan bisnis agar mampu menarik minat investor global yang saat ini dinilai masih selektif.
"Kita harus melihat ini sebagai kompas, kata harus melihat ini sebagai penunjuk arah, pedoman. Kalau kita lihat, modal atau finance yang ada di dunia tidak boleh dan tidak bisa kita lihat sedang langka. Namun modal, finance, investor, itu selalu dan sedang mencari kelayakan. Maka tugas kita semua yang ada di ruangan ini, seluruh stakeholders, bukan hanya meminta uang lebih banyak tapi juga bisa melahirkan lebih banyak startup yang layak dibiayai," pungkasnya.