Kemenkop Ubah Format Pelatihan Manajer Koperasi Desa Merah Putih
Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengubah format pelatihan ala militer bagi calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdeskel Merah Putih) setelah berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan pada Sabtu (11/7/2026). Perubahan tersebut mencakup penambahan hari yang difokuskan pada pembekalan kemampuan interaksi sosial dan kompetensi nonteknis peserta.
Dilansir dari Detik Finance, kurikulum baru ini dirancang untuk melengkapi pengetahuan manajerial para peserta. Evaluasi bersama Kementerian Pertahanan membuahkan kesepakatan untuk memperpanjang durasi kegiatan demi memasukkan materi interpersonal.
"Kemarin sudah dievaluasi, alhamdulillah dari pihak Kementerian Pertahanan juga sudah mau mengevaluasi. Bahkan formatnya juga sudah berubah, kami di Kementerian Koperasi mendapatkan tambahan hari. Tambahan hari yang diberikan kepada kami akan kita berikan bagaimana (cara) interaksi sosial, soft skill, segala macam yang akan melengkapi pengetahuan mereka," ujar Ferry dalam acara detikSore.
Penyusunan durasi pelatihan kini menetapkan porsi khusus untuk pendalaman materi inti. Dari total masa pendidikan selama 45 hari, penyelenggara mengalokasikan 15 hari khusus untuk pendalaman materi manajemen, keuangan, serta tata kelola perkoperasian. Ferry menilai kompetensi kepemimpinan menjadi faktor penentu kemajuan lembaga, bukan sekadar fasilitas fisik.
"Sekarang yang terpenting bukan bangunan fisik (koperasinya) yang keren, bukan hanya ditentukan oleh kelengkapan barang dagangannya, tapi kemampuan manajer-manajer Koperasi Desa itu sangat menentukan keberhasilan operasional dari Kopdeskel Merah Putih," tambah Ferry.
Aspek operasional dinilai menjadi indikator utama dalam mengukur performa lembaga ekonomi desa ini. Ferry menginstruksikan para calon pimpinan untuk menguasai penyusunan studi kelayakan yang mencakup unit usaha ritel hingga pembiayaan mikro.
"Teman-teman semuanya harus bisa selain bagaimana mengembangkan usaha dari Kopdeskel Merah Putih, karena model bisnis dan feasibility study yang nanti akan dijadikan pedoman para manajer itu harus juga bagaimana (diterapkan) feasibility study untuk kegiatan ritelnya, untuk keuangan mikronya, untuk gerai obat dan kliniknya, gudang dan logistiknya," beber Ferry.
Ferry menargetkan para pengelola mampu bertindak layaknya pemimpin perusahaan yang berorientasi pada profitabilitas. Namun, proses pengembangan lini bisnis tersebut tetap disesuaikan dengan dinamika pasar yang membutuhkan waktu.
"Itu 'kan harus dikemas, diramu oleh seorang manajer Koperasi Desa. Jadi, manajer Kopdes ini dia pemimpin, dia CEO-nya. Dan KPI Kopdes ini harus untung, harus profit, tapi juga namanya bisnis, di manapun perlu waktu, trial and error," pungkas Ferry.