Kemenkes Ungkap Kasus Diabetes Usia Muda Melonjak Akibat Gaya Hidup

Share

Lonjakan kasus diabetes kini semakin mengancam kelompok usia muda dan anak-anak di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan bahwa pergeseran gaya hidup modern menjadi faktor utama di balik peningkatan signifikan tersebut.

Indonesia saat ini menempati peringkat kelima di dunia dengan jumlah pasien diabetes terbanyak. Sebanyak lebih dari 20 juta penduduk diperkirakan hidup dengan kondisi ini, yang mencerminkan tingkat prevalensi sebesar 11,3 persen.

Data yang dilansir dari Detik Health menunjukkan temuan mengkhawatirkan berupa kenaikan kasus diabetes pada anak hingga 70 kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Tren serupa juga terlihat pada kelompok usia produktif di bawah 40 tahun yang terus merangkak naik.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan pola hidup masyarakat yang semakin kurang bergerak atau sedentari.

"Yang pasti satu, harus seimbang. Yang penting itu keseimbangan antara asupan dan aktivitas," kata Nadia dalam sesi bincang detikcom Leaders Forum 'Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut', Jumat (5/6/2026).

Perkembangan teknologi dan layanan digital dinilai berkontribusi memangkas aktivitas fisik generasi muda secara drastis dibandingkan dengan generasi terdahulu.

"Kita naik diabetesnya karena kita tahu generasi muda sekarang sedentari dan apa-apa lebih mudah. Mungkin zaman saya kuliah kalau mau makan harus jalan kaki mencari warung. Kalau sekarang, warungnya datang dalam lima sampai 10 menit," ujarnya.

Kondisi kurang bergerak ini memicu ketidakseimbangan antara kalori yang masuk dengan energi yang dikeluarkan tubuh. Dampaknya, risiko kelebihan berat badan hingga obesitas meningkat, yang memicu kemunculan diabetes tipe 2.

Tingginya konsumsi makanan serta minuman kaya gula turut memperparah keadaan. Manajemen pola makan secara bijak sangat krusial, terlebih bagi individu yang minim melakukan aktivitas fisik sehari-hari.

"Kalau kita tahu aktivitas fisik kita kurang, asupan kita harus dibatasi. Dengan adanya informasi kandungan gizi pada makanan dan minuman, sebenarnya kita bisa mengatur diri untuk membatasi asupan," jelasnya.

Proses mengubah kebiasaan memang memerlukan waktu, namun langkah awal bisa dimulai dengan metode penyeimbangan konsumsi makanan harian.

"Kalau hari ini minum yang manis-manis, besoknya dihindari atau dikurangi. Intinya balancing," katanya.

Kombinasi berbagai macam faktor seperti makanan cepat saji, minuman berpemanis, kurang gerak, hingga stres menjadi pemicu utama yang diwaspadai para ahli. Tingginya Indeks Massa Tubuh (IMT) pada kondisi obesitas juga memiliki korelasi kuat dengan risiko diabetes.

Proyeksi Kemenkes menunjukkan jumlah penderita diabetes di Indonesia bisa membengkak hingga 28-40 juta kasus pada 2045 jika tidak ada langkah intervensi efektif melalui perubahan gaya hidup serta deteksi dini.

Langkah pencegahan melalui kebiasaan hidup sehat harus dibangun sejak dini, meliputi pengaturan asupan gula, olahraga rutin, menjaga berat badan ideal, hingga pemeriksaan medis secara berkala.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author