Kemenkes Memperketat Pintu Masuk Indonesia Antisipasi Wabah Ebola Kongo

Share

Kementerian Kesehatan RI memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, menyusul lonjakan kasus suspek Ebola di Republik Demokratik Kongo yang mencapai 543 orang dengan 136 kematian. Langkah antisipasi ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan global terhadap penyebaran lintas wilayah virus Ebola strain Bundibugyo yang belum memiliki vaksin resmi.

Dilansir dari Detik Health pada Rabu (20/5/2026), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan status darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional terhadap wabah ini. Kendati demikian, WHO menyatakan situasi tersebut belum memenuhi kriteria darurat pandemi, meski berpotensi meluas secara lokal dan regional.

Hingga kini, otoritas kesehatan internasional masih melakukan investigasi mendalam lantaran asal wabah dan kasus pertama belum berhasil diidentifikasi secara pasti. Kasus kematian awal terdeteksi di wilayah Bunia sebelum akhirnya menyebar saat prosesi pemakaman di Mongbwalu.

"Yang kami ketahui saat ini adalah pada 5 Mei ada seseorang yang meninggal di Bunia," ujar Adelheid Marschang Ancia, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pemerintah Indonesia memastikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus penularan Ebola di dalam negeri. Seluruh pelaporan dari pintu masuk internasional dipantau ketat secara langsung melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta Public Health Emergency Operation Center (PHEOC).

"Kementerian Kesehatan terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor. Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak," beber Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes.

Pihak Kemenkes juga telah menyiagakan tenaga medis di lapangan serta menyiapkan prosedur rujukan rumah sakit jika ditemukan penumpang dengan gejala klinis ebola. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menyaring informasi agar tidak terpengaruh hoaks yang beredar di media sosial.

"Ebola merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan kematian dengan tingkat fatalitas rata-rata mencapai 50 persen. Saat ini terdapat tiga jenis strain virus yang sering menyebabkan wabah, yaitu Ebola Virus Disease (EVD), Sudan Virus Disease (SVD), dan yang saat ini berkembang di Kongo yaitu Bundibugyo Virus Disease (BVD)," jelas Aji Muhawarman.

Upaya pencegahan mandiri dapat dilakukan dengan menjaga higienitas dan membatasi interaksi fisik yang berisiko memicu penularan virus dari cairan tubuh makhluk hidup yang terinfeksi.

"Langkah terbaik saat ini adalah tetap waspada dengan rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun, mengenakan masker jika merasa kurang sehat, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar. Hindari juga kontak langsung dengan orang atau hewan yang sakit," lanjut Aji Muhawarman.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author