Kemenkes Pastikan Kasus Hantavirus Bandung Tidak Terkait Kapal Pesiar

Share

Kementerian Kesehatan RI memastikan kasus kematian pasien akibat hantavirus di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung tidak berhubungan dengan laporan kontak erat hantavirus dari kapal pesiar mewah MV Hondius yang dipantau di RSPI Sulianti Saroso pada Jumat (22/05).

Klarifikasi tersebut dikeluarkan pemerintah menyusul mencuatnya narasi pasien meninggal dunia pascapaparan klinis oleh dokter spesialis penyakit dalam RSHS Bandung. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan hantavirus sudah ditemukan di Indonesia sejak tahun 1991 melalui berbagai penelitian.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni, menerangkan bahwa pasien di Bandung tersebut terinfeksi tipe virus yang berbeda dengan kasus di kapal pesiar, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

"Kasus ini di tahun 2025, tipenya HFRS, bukan tipe HPS yang di MV Hondius," kata Andi saat dihubungi wartawan, dikutip Jumat (22/05).

Pihak otoritas kesehatan menambahkan bahwa jenis virus yang beredar di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan dibawa oleh tikus got perkotaan. Tipe ini memiliki masa inkubasi satu hingga dua minggu dengan tingkat kematian mencapai 5% sampai 15%.

Kondisi ini bertolak belakang dengan tipe Hantapulmonary Syndrome (HPS) pada kasus kapal MV Hondius yang menelan tiga korban jiwa. Tipe HPS yang banyak ditemukan di benua Amerika tersebut disebarkan oleh tikus liar pedesaan dengan fatalitas mencapai 60%.

Sebelum meninggal dunia setelah dirawat tiga hari, pasien buruh bangunan di Bandung dilaporkan mengalami gejala awal demam seminggu, nyeri perut, hingga urine pekat. Gejala klinisnya kemudian memburuk menjadi sesak napas berat dan tubuh menguning akibat gangguan hati hingga membutuhkan tindakan intubasi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author