Kemenkes Evaluasi Program Internsip Usai Enam Dokter Meninggal

Share

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menggelar evaluasi menyeluruh terhadap Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) menyusul lonjakan kasus kematian enam dokter peserta sepanjang 2026, seperti dilansir dari Detik Health pada Rabu (29/7/2026).

Jumlah kasus tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hampir tidak mencatat angka kematian peserta. Pemerintah menyoroti kondisi ini sebagai perhatian serius yang memerlukan penanganan khusus.

Direktur Jenderal SDM Kesehatan Kemenkes RI Yuli Farianti menyampaikan penjelasan mengenai fenomena kematian peserta program tersebut.

"Baru tahun ini berturut-turut. Kemarin tidak ada," kata Yuli.

Pemerintah mengidentifikasi adanya gangguan kesehatan mental pada sejumlah peserta tahun sebelumnya, meski tingkat keparahannya bervariasi.

"Ada mental health, tapi degradasinya berbeda-beda," ujar Yuli.

Kemenkes merespons temuan tersebut dengan memperketat proses seleksi kesehatan jiwa, jadwal pemeriksaan medis rutin, serta pengawasan intensif selama program berlangsung.

Kendati evaluasi besar-besaran sedang berjalan, pendaftaran peserta baru PIDI dipastikan tetap dibuka sesuai jadwal. Namun, proses pemberangkatan peserta ke lokasi penugasan mengalami penundaan sementara hingga evaluasi selesai.

"Tidak ditunda, tetap ada pendaftaran. Tapi pemberangkatannya kami fokus konsentrasi dulu di kasus ini sampai selesai," tegas Yuli.

Langkah evaluasi Kemenkes mencakup pengetatan skrining kesehatan mental, pemeriksaan medis berkala, pembatasan jam kerja, serta penguatan peran dokter pendamping.

Terkait sistem penempatan, Yuli memberikan tanggapan mengenai keberadaan dokter asal Makassar yang bertugas di Jakarta.

"Ada dua kali kocokan. Wahana tidak semua puskesmas bisa jadi wahana, semua rumah sakit juga tidak bisa jadi wahana. Harus ada dokter pendamping, dokter organik, sarana prasarana, dan fasilitas yang memadai," jelas Yuli.

Dalam setiap periode, sekitar 4.000 dokter dialokasikan ke berbagai fasilitas kesehatan. Sebanyak 95 persen peserta mengisi kuota lokal, sementara sisanya terdistribusi ke tingkat regional atau nasional karena keterbatasan kapasitas wahana daerah asal.

"Sekarang sekitar 95 persen masih lokal, sisanya regional atau nasional," kata Yuli.

Ketidakseimbangan jumlah lulusan fakultas kedokteran dan ketersediaan kuota wahana di daerah membuat sebagian peserta terintegrasi ke wilayah lain.

"Misalnya ada enam fakultas kedokteran di Makassar meluluskan 300 orang, sementara kuota wahana di sana hanya tersedia untuk 200 peserta. Kemungkinan besar 200 diisi peserta lokal, sedangkan 100 lainnya ditempatkan di wahana lain, salah satunya bisa di Jakarta," jelas Yuli.

Sistem distribusi penempatan tersebut juga memberikan fleksibilitas bagi peserta untuk memilih lokasi penugasan yang masih memuat kuota kosong.

"Bisa juga dia memilih Jakarta, kebetulan dapat," kata Yuli.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Dokter Internsip Kemenkes PIDI
Editors Team
gilang-permana-putra
Author