Kemenkes Catat Kasus Hepatitis di Indonesia Tembus 10 Juta Pasien
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan jumlah penderita peradangan organ hati atau hepatitis di Indonesia telah menembus angka lebih dari 10 juta orang pada Selasa (28/7/2026). Informasi tersebut disampaikan Menkes dalam acara Webinar Hari Hepatitis Sedunia Tahun 2026, sebagaimana dilansir dari Detik Health.
"Data yang saya lihat, penderita hepatitis itu sudah di atas 10 juta," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.
Kementerian Kesehatan terus mendorong percepatan penanganan infeksi tersebut agar Indonesia dapat mencapai target eliminasi nasional. Penyakit ini memicu peradangan jaringan hati akibat infeksi virus, konsumsi alkohol, efek samping obat, hingga penumpukan lemak.
"Jadi itu pesan saya, yang pertama dari sisi screening, harus kita tingkatkan secara agresif. Wajibkan, pastikan eksekusi yang di ANC itu di-screen, semua pasien-pasien HIV itu di-screen, dan CKG itu di-screen. Kita harus segera bisa meningkatkan double screening rate-nya kita, kalau bisa disamakan presentasinya dengan Thailand," ujar Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.
Selain perluasan deteksi dini pada kelompok berisiko tinggi, pemerintah merencanakan peningkatkan aksesibilitas pengobatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dokter umum di puskesmas akan difungsikan untuk mendistribusikan terapi obat secara langsung kepada pasien.
"Yang kedua, rezim pengobatannya, tata laksananya turunkan ke puskesmas. Dokter umum harus bisa memberikan obat-obatan ini, dan juga obat-obatannya harus tersedia di puskesmas, karena penderitanya ini yang sudah banyak sekali," ujar Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.
Upaya penekanan beban biaya medis juga menjadi fokus utama pemerintah melalui koordinasi pengadaan obat-obatan hepatitis. Penyesuaian tarif obat dilakukan agar tidak melebihi standar harga internasional.
"Dan yang ketiga, saya ingin segera dapat laporan bagaimana kita bisa merenegosiasi harga obat hepatitis ini, sehingga jangan kita dua kali, tiga kali, enam kali lebih mahal dari rata-rata dunia," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.
Dari sisi penanganan medis harian, kecukupan asupan nutrisi seperti protein berkualitas, karbohidrat kompleks, serat, serta pematuhan pola makan rendah lemak jenuh menjadi faktor krusial pemulihan sel-sel hati.
"Kalau hati lagi meradang, makanan pertama yang saya pikirkan bukan jus detoks. Isi piring dengan protein seperti ikan, telur, ayam, tahu, atau tempe. Tambahkan karbohidrat kompleks, serta buah dan serat, seperti sayuran, setiap hari" jelas dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Klinik.
Target eliminasi global dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2030 menuntut penurunan 90 persen kasus infeksi baru serta pencapaian 80 persen cakupan pengobatan bagi penderita yang terdiagnosis.