Kemenkes Bantah Temuan Kasus Virus Zika di Bali

Share

Kementerian Kesehatan RI membantah peringatan Travel Health Notice Level 2 dari CDC Amerika Serikat terkait temuan kasus virus Zika di Bali. Direktur Jenderal P2P Kemenkes Andi Saguni memastikan belum ada temuan kasus Zika di Indonesia hingga 10 Agustus 2026, seperti dilansir dari Detik Health.

Andi menjelaskan bahwa peringatan CDC Amerika Serikat merujuk pada buletin European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) periode 11-17 April 2026. Buletin itu melaporkan wisatawan asal Prancis dan Jerman positif Zika usai berlibur ke Bali, namun tanpa merinci lokasi kunjungan mereka.

Pihak Kemenkes langsung menggelar pertemuan bersama CDC Indonesia dan CDC Amerika Serikat untuk menindaklanjuti kabar tersebut. Selain itu, pemerintah Indonesia menegaskan belum menerima notifikasi resmi International Health Regulations (IHR) dari pihak Prancis maupun Jerman.

"Saat berita buletin ECDC dinaikkan lagi oleh CDC Amerika Serikat, langsung ditindaklanjuti melalui pertemuan dengan CDC Indonesia dan CDC Amerika Serikat," ujar Andi Saguni, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes.

Kemenkes juga menyoroti ketiadaan laporan resmi dari negara asal para wisatawan yang terinfeksi tersebut.

"Sampai saat ini pun tidak ada notifikasi IHR terkait Zika dari negara-negara tersebut," ujar Andi Saguni, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes.

Di sisi lain, Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengingatkan adanya risiko potensi kasus tidak terdeteksi. Hal ini disebabkan sebagian besar infeksi virus Zika bersifat asimptomatik atau tidak menimbulkan gejala mendasar pada penderitanya.

Gejala infeksi Zika sering kali menyerupai penyakit menular lain sehingga sulit dibedakan secara langsung tanpa tes laboratorium.

"Kemudian gejala Zika ini overlap, sering disalahartikan sebagai dengue, chikungunya, influenza, atau viral syndrome daripada langsung melakukan pemeriksaan Zika Virus," ujar Dicky Budiman, Epidemiolog Griffith University.

Meski memicu dampak ringan pada masyarakat umum, infeksi virus ini berisiko tinggi apabila menulari kelompok rentan seperti ibu hamil karena dapat memicu komplikasi neurologis pada janin.

Indikasi umum infeksi mencakup demam ringan di bawah 38,5 derajat celsius, ruam kulit makulopapular, mata merah, hingga nyeri sendi yang berlangsung selama 2 hingga 7 hari.

"Gejalanya juga biasanya berlangsung sekitar 2-7 hari. Yang paling karakteristik selain demam ringan adalah ruam makulopapular namanya. Akhirnya mirip-mirip kayak demam berdarah kan," ujar Dicky Budiman, Epidemiolog Griffith University.

Ia menambahkan beberapa gejala fisik lain yang sering menyertai pasien terinfeksi virus tersebut.

"Kemudian ada conjunctivitis non purulent atau mata merah, ada nyeri sendi atau atralgia tadi. Ada nyeri otot, ada sakit kepala, ada kelemahan, ada kadang pembengkakan edema di sekitar sendi," ujar Dicky Budiman, Epidemiolog Griffith University.

Sifat infeksi yang tergolong ringan dan tanpa gejala menjadi tantangan epidemiologis tersendiri dalam menekan rantai penularan di lapangan. Orang yang terinfeksi tanpa gejala tetap berpotensi menyebarkan virus yang ditularkan terutama melalui gigitan nyamuk tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author