Kemenbud Susun Roadmap TAWARUPA Wujudkan Pengobatan Tradisional Berbasis Riset

Share

Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI merumuskan arah kebijakan nasional pengobatan tradisional melalui Focus Group Discussion (FGD) TAWARUPA. Langkah strategis ini diselenggarakan di Graha Utama Gedung A Kemenbud, Jakarta, seperti dilansir dari Detikcom. Pengembangan Sistem Pengobatan Tradisional Nusantara (TAWARUPA) dirancang berbasis bukti ilmiah serta warisan budaya untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Forum diskusi ini diinisiasi bersama Bappenas guna membangun kerangka kerja nasional yang modern, inklusif, dan berbasis riset. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, memaparkan bahwa pengobatan tradisional merupakan bagian penting dari warisan budaya hidup. Praktik tersebut terbentuk dari pengalaman panjang masyarakat yang diwariskan lintas generasi melalui manuskrip hingga ingatan para pelakunya.

Langkah penguatan ini selaras dengan strategi global World Health Organization (WHO). Poin utamanya mencakup peningkatan bukti ilmiah, jaminan mutu dan keamanan, serta penghormatan terhadap biodiversitas dan hak masyarakat pemilik pengetahuan.

Fadli Zon menegaskan keberadaan pengetahuan lokal menjadi bukti daya tahan masyarakat Nusantara sejak masa lalu. Pengalaman panjang merawat sesama dan beradaptasi dengan lingkungan tropis yang kompleks membuktikan kekayaan inovasi kesehatan Indonesia. "Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Nusantara bukan sekadar penerima pengetahuan dari luar. Sejak masa sejarah awal, masyarakat Indonesia telah mengembangkan pengetahuan untuk bertahan hidup, merawat sesama, dan beradaptasi dengan lingkungan tropis yang sangat kompleks," kata Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2026).

Pemerintah mendorong hilirisasi kearifan lokal melalui pengembangan fitofarmaka. Obat alami yang telah melewati uji praklinis dan klinis ini dinilai menjadi jembatan antara sains bioteknologi dan kearifan tradisional untuk mengurangi ketergantungan obat impor. "Karena itu, saya mendorong lebih banyak lagi fitofarmaka, obat berbahan dasar alam yang telah melalui uji praklinis dan klinis sebagai jembatan antara kearifan lokal dan sains bioteknologi Indonesia. Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan fitofarmaka sebagai salah satu keunggulan kompetitif di bidang kesehatan, serta dapat menjadi alternatif dari ketergantungan kita terhadap obat impor," ujarnya.

Sebagai negara kekayaan biodiversitas melimpah, Indonesia mengandalkan ramuan herbal, pola makan, dan terapi tubuh sebagai bagian identitas bangsa. Pengakuan Jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada 2023 memperkuat nilai sosial, ekonomi, ilmiah, dan diplomatik tradisi ini. Melalui Direktorat Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Kemenbud menjadikan FGD TAWARUPA sebagai wadah penguatan aset strategis nasional.

Program ini diarahkan agar memberi manfaat nyata bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. "Berangkat dari hal tersebut, Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual menyelenggarakan FGD TAWARUPA sebagai upaya mendorong keberlanjutan pengetahuan tradisional sekaligus membuka peluang pengembangannya sebagai aset strategis yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung pembangunan nasional," jelasnya.

Integrasi antara sains modern dan kebudayaan diyakini dapat mengubah praktik tradisional menjadi produk yang aman, terpercaya, dan berdaya saing tinggi. Kolaborasi ini disiapkan untuk memperkuat kedaulatan kesehatan nasional secara berkelanjutan.

"Pengetahuan yang telah diwariskan turun-temurun harus berkembang menjadi pengetahuan yang terdokumentasi; praktik yang aman dan terpercaya; produk yang berdaya saing; sumber kesejahteraan masyarakat; serta sebagai sumber kekuatan bagi kedaulatan kesehatan Indonesia. Semoga FGD ini menghasilkan gagasan yang tajam, rekomendasi yang konkret, dan langkah kolaboratif," tuturnya. Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menyatakan bahwa forum ini berfokus menjawab kebutuhan sistem pengobatan tradisional dalam wadah yang terintegrasi dan responsif terhadap perkembangan zaman.

"Forum diskusi ini diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan dan Bappenas untuk menjawab pertanyaan ini. Inisiasi tersebut juga melingkupi diskusi terkait penyusunan konsep TAWARUPA sebagai kerangka nasional yang menghimpun berbagai praktik pengobatan tradisional Nusantara dalam satu sistem yang modern, inklusif, dan berbasis riset," tutupnya.

Kegiatan FGD ini turut dihadiri Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalucia, Dirjen Pemberdayaan Nilai Budaya I Made Dharma Suteja, perwakilan BPOM William Adi Teja, perwakilan Bio Farma Group Fitri Puspadewi, akademisi dr. Anna Rozaliyani, praktisi Gunartho, serta budayawan Ki Jatnika Nanggamihardja.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author