Kemen PPPA Tetapkan Tema Hari Anak Nasional 2026 untuk Lindungi Masa Depan

Share

Hari Anak Nasional di Indonesia diperingati setiap tanggal 23 Juli. Dilansir dari HaiBunda, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menetapkan tema Hari Anak tahun ini yaitu 'Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan'. Peringatan ini menjadi momentum penting untuk memastikan hak-hak anak terpenuhi.

Anak-anak perlu tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, serta mendapatkan perhatian pada kesehatan mentalnya sejak bayi. Membangun fondasi kesehatan emosional sejak dini sangat krusial. Pengalaman pada awal kehidupan memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk perkembangan emosional anak di masa depan.

"Ketika kita berbicara tentang kesehatan mental bayi, kita memikirkan kemampuan seorang anak kecil untuk mengekspresikan dan mengelola emosi, membentuk hubungan yang dekat dan aman, serta menjelajahi dan belajar tentang dunia di sekitarnya," kata pakar Lindsey C. Burghardt, MD, MPH, FAAP, dilansir laman Developing Child Harvard University.

"Sama seperti orang dewasa, bayi dan anak kecil mengalami emosi, dan lingkungan dapat memengaruhi kesehatan mental mereka. Mereka sangat sensitif terhadap pengaruh tersebut sejak periode prenatal (dalam kandungan) dan 2-3 tahun pertama setelah lahir," sambungnya. Burghardt menjelaskan bahwa interaksi genetik dan lingkungan pada periode tersebut meletakkan dasar kesehatan mental anak. Pengaruh positif berupa hubungan stabil dengan pengasuh, rumah bebas timbal, dan ruang hijau akan menguatkan fondasi ini.

Sebaliknya, paparan polusi udara, air tercemar, minimnya ruang hijau, dan kurangnya nutrisi dapat memicu fondasi mental yang tidak stabil. Burghardt menyebut fondasi ini akan bertahan hingga usia dewasa. Membangun kesehatan mental bayi dapat dimulai dengan menerapkan rutinitas positif di rumah. Bayi dan anak-anak akan merasa aman serta berkembang optimal saat mereka mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Rutinitas kecil seperti mandi, sikat gigi, dan membaca buku sebelum tidur memberi tahu anak bahwa sudah waktunya untuk bersantai," ujar Burghardt. "Di sekitar waktu makan, ini bisa berupa menyanyikan lagu sambil mencuci tangan atau duduk bersama dan berbicara tentang hari-hari yang orang tahu jalani. Bahkan, bayi pun dapat berpartisipasi dalam waktu makan malam, dan rutinitas waktu makan bersama pengasuh adalah cara yang bagus untuk menumbuhkan hubungan dan rasa aman."

Organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa untuk anak, UNICEF, juga membagikan panduan menjaga ketahanan mental anak berdasarkan kelompok usia. Menghabiskan waktu berkualitas bersama orang tua menjadi kunci utama dalam proses ini.

Untuk bayi, orang tua disarankan bermain, memeluk, mengajak bicara, bernyanyi, dan merespons suara bayi dengan kata-kata. Aktivitas ini membantu pelepasan hormon alami tubuh untuk mempererat ikatan emosional.

Saat memasuki usia balita, rasa ingin tahu anak yang meningkat perlu didorong secara positif. Orang tua dapat membacakan buku setiap hari, bermain permainan edukatif, mengajak menyebutkan nama benda, dan menjelajahi lingkungan luar rumah. Bagi anak usia prasekolah, interaksi sosial dengan anak lain perlu didukung untuk melatih kemandirian. Orang tua bisa melibatkan anak dalam tugas sederhana, membimbing penyelesaian masalah, serta menetapkan batasan yang jelas dengan alternatif pilihan yang mudah dipahami.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author