Kematian Ibu Hamil akibat Penyakit Jantung Dapat Dicegah

Share

Sebagian besar kematian ibu hamil yang disebabkan oleh gangguan kardiovaskular sebenarnya dapat dihindari. Pengelolaan risiko yang tepat menjadi kunci utama dalam menekan angka fatalitas tersebut.

Seperti dilansir dari HaiBunda, laporan National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine mengungkapkan bahwa lebih dari tiga perempat kematian kardiovaskular terkait kehamilan berpotensi untuk dicegah.

Perawatan pencegahan selama ini lebih banyak berpusat pada fase prenatal dan setelah persalinan. Konseling pra-kehamilan, tindak lanjut pascapersalinan, serta penanganan risiko jangka panjang masih sering terabaikan.

Laporan tersebut mendorong adanya peningkatan layanan klinis pencegahan dan koordinasi perawatan secara menyeluruh di setiap tahap kehidupan reproduksi wanita.

"Kehamilan dapat mengungkap risiko kardiovaskular yang mungkin belum dikenali sebelumnya, tetapi pencegahan tidak dapat berhenti pada saat persalinan," kata ilmuwan peneliti, Tracy A. Lieu.

"Terlalu sering peluang terlewatkan saat perawatan, tindak lanjut berakhir terlalu dini, atau perempuan tidak terhubung dengan perawatan pencegahan berkelanjutan. Kita perlu memperkuat pencegahan dan kesinambungan perawatan sebelum, selama, dan setelah kehamilan," tutur Tracy A. Lieu.

Berdasarkan peninjauan sembilan layanan klinis pencegahan, terdapat dua area utama yang memiliki bukti kuat untuk segera diterapkan dalam panduan medis.

Pertama, penanganan hipertensi kronis pada masa kehamilan harus ditargetkan untuk mencapai tekanan darah di bawah 140/90 mmHg. Langkah ini terbukti menekan risiko preeklamsia, kelahiran prematur, serta gangguan pertumbuhan janin.

Kedua, pengawasan hipertensi pascapersalinan perlu ditingkatkan. Penggunaan pemantauan mandiri atau jarak jauh yang dikombinasikan dengan evaluasi klinis terstruktur terbukti efektif mengontrol tekanan darah ibu.

Risiko Kardiovaskular Jangka Panjang

Masa kehamilan bertindak sebagai uji stres fisiologis yang mampu memicu kerentanan metabolik maupun kardiovaskular. Gangguan tekanan darah saat hamil menjadi indikator peningkatan risiko kesehatan di masa depan.

"Perempuan dengan risiko kardiovaskular tinggi membutuhkan transisi yang lebih baik, dari rawat inap persalinan ke perawatan pasca persalinan rawat jalan, dan dari perawatan obstetri ke perawatan primer, serta perawatan spesialis bila diperlukan," demikian isi laporan tersebut.

Merujuk data Heart Foundation, wanita yang pernah mengalami preeklamsia atau hipertensi gestasional memiliki risiko hipertensi kronis empat kali lebih tinggi. Selain itu, risiko penyakit jantung iskemik juga meningkat dua kali lipat.

"Risiko relatif hipertensi kronisnya empat kali lebih tinggi dan penyakit jantung iskemik dua kali lebih tinggi dibandingkan perempuan yang tidak mengalami kondisi tersebut selama kehamilan," demikian isi ulasan Heart Foundation.

Wanita yang memiliki riwayat penyakit jantung sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan tim medis sebelum merencanakan kehamilan guna mendapat pemantauan yang lebih ketat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author