Kekayaan Miliarder AI Meningkat Saat Kelas Pekerja Menghadapi Tekanan Ekonomi
Kelas pekerja di berbagai negara menghadapi tekanan ekonomi akibat kenaikan harga bahan bakar, inflasi, dan ketegangan geopolitik. Di Amerika Serikat, penjualan ritel menurun signifikan sebesar 0,6 persen antara Mei dan Juli, jauh melampaui prediksi penurunan 0,1 persen, dikutip dari Detik iNET.
Sementara itu, kelompok ultra kaya, khususnya para miliarder yang memperoleh kekayaan dari perkembangan kecerdasan buatan (AI), justru mengalami peningkatan kekayaan yang pesat. Financial Times melaporkan bahwa jumlah miliarder di AS meningkat 13 persen dari April 2025 hingga 2026, dengan sekitar 3.302 individu baru yang memiliki kekayaan bersih di atas sepuluh digit.
Para miliarder teknologi ini menghabiskan dana dalam jumlah besar untuk barang-barang mewah seperti mobil super, kapal pesiar berteknologi tinggi, dan jet pribadi terbaru. Gaya hidup mereka berbeda dari orang kaya lama, lebih mengutamakan kemewahan yang tidak mencolok dan personal, seperti pilihan air minum tertentu dan katering sehat.
Toby Edwards, Wakil Kepala Eksekutif FlyVictor, menyatakan bahwa para miliarder generasi baru ini memilih penerbangan privat demi efisiensi dan privasi, bukan semata untuk menunjukkan status sosial.
Paul Charles, konsultan perjalanan mewah, menambahkan bahwa kemunculan miliarder dari sektor AI telah menciptakan permintaan baru bagi perusahaan penyedia jet pribadi, kapal pesiar, dan mobil mewah. Ia menekankan bahwa selera klien lama yang tinggi kini bergeser, sehingga perusahaan harus menyesuaikan layanan untuk memenuhi kebutuhan generasi baru pelancong mewah yang lahir dari kekayaan AI.