Kejagung Ungkap Markup Pengadaan Motor Listrik Program MBG Rp1 Triliun
Kejaksaan Agung membongkar dugaan penggelembungan harga atau markup dalam proyek pengadaan kendaraan roda dua berbasis baterai. Fasilitas ini sedianya dialokasikan untuk menyokong kelancaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Nilai proyek pengadaan ini menembus angka yang sangat fantastis, yakni mencapai lebih dari Rp1 triliun. Seperti dilaporkan oleh Detik Oto, pihak korps adhyaksa juga mengendus adanya ketidakpatuhan syarat dari pihak rekanan yang ditunjuk.
Perusahaan pemenang proyek selaku vendor, yakni PT YAT, disinyalir tidak memiliki infrastruktur pendukung yang dipersyaratkan. Lembaga penegak hukum tersebut menyatakan mitra terkait tidak memunyai fasilitas pemasaran maupun perbengkelan yang beroperasi secara aktif.
"Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan nilai total pengadaan sebesar Rp1.035.515.297.908,02 (satu triliun tiga puluh lima miliar lima ratus lima belas juta dua ratus sembilan puluh tujuh ribu sembilan ratus delapan rupiah koma dua sen) dan telah dibayarkan ke PT YAT yang tidak memenuhi syarat selaku Vendor karena tidak memiliki dealer/bengkel aktif dan terdapat markup," demikian keterangan resmi Kejagung.
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, PT YAT merujuk pada nama korporasi PT Yasa Artha Trimanunggal. Data pada sistem katalog elektronik Inaproc memperlihatkan entitas ini mendistribusikan unit kendaraan bermotor listrik dengan tipe Emmo JVX GT serta Emmo JVH Max.
Merek dagang asal luar negeri tersebut tercatat mengawali kiprah komersialnya di pasar domestik pada periode tahun 2025. Memasuki tahun 2026, manajemen menargetkan ekspansi berupa pendirian 50 titik pusat penjualan resmi yang tersebar di wilayah urban tanah air."Hal ini memperkuat kepercayaan pelanggan terhadap brand Emmo," tulis perusahaan di situs tersebut.
Distribusi Wilayah Jaringan Pemasaran
Dalam platform daring resminya, jaringan kemitraan penjualan diklaim bakal menjangkau area geografi yang luas dari barat hingga timur. Pada kawasan Pulau Jawa, sebaran lokasi diproyeksikan berada di Jakarta, Banten, Bogor, Semarang, Sleman, hingga Surabaya.
Sementara untuk area luar Jawa, wilayah administrasi Papua menjadi sasaran utama yang mencakup Mimika, Wamena, Sorong, Manokwari, Jayapura, dan Merauke. Kendati demikian, seluruh titik operasional purnajual tersebut hingga kini nyatanya belum berwujud fisik.
Status informasi operasional untuk seluruh gerai yang terdaftar masih menunjukkan keterangan bernada penundaan. Seluruh diler tertulis dijadwalkan beroperasi rutin mulai Senin sampai Sabtu pada pukul 08.00-17.00 WIB untuk zona Jawa, serta pukul 08.00-17.00 WIT bagi zona Papua.