Kebiasaan Sehat Ibu Hamil Turunkan Risiko Autisme Anak 30 Persen

Share

Menjaga pola hidup sehat selama masa kehamilan ternyata berdampak besar bagi masa depan anak. Kebiasaan sederhana yang dilakukan ibu hamil disebut mampu meminimalkan risiko gangguan spektrum autisme (ASD) pada anak. Gaya hidup sehat selama mengandung memiliki korelasi erat dengan penurunan probabilitas gangguan perkembangan saraf janin.

Meski demikian, autisme merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi oleh multi-faktor termasuk aspek genetika dan lingkungan. Dilansir dari HaiBunda, autisme atau ASD merupakan kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi fungsi dan pertumbuhan otak. Hal ini berdampak pada kecakapan komunikasi, interaksi sosial, serta pola perilaku anak.

Setiap anak berada pada spektrum yang berbeda sehingga gejala dan tingkat dukungan yang dibutuhkan tidak sama. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan autisme bukan penyakit menular ataupun dampak dari pola asuh orang tua.

Tumbuh kembang setiap anak bersifat unik, namun ada beberapa indikator awal yang memerlukan perhatian khusus dari orang tua. Tanda tersebut biasanya terbagi dalam beberapa aspek respons dan komunikasi. Dalam interaksi sosial, bayi dengan indikator ASD umumnya jarang melakukan kontak mata dan kurang merespons saat namanya dipanggil. Mereka juga cenderung kurang tertarik berinteraksi dengan lingkungan sekitar serta minim ekspresi emosi.

Dari segi komunikasi, tanda yang muncul meliputi keterlambatan fase ocehan (babbling) serta minimnya penggunaan gestur atau suara. Anak juga jarang menunjuk objek tertentu untuk berkomunikasi dengan orang tua. Selain itu, karakteristik lain dapat berupa tindakan atau respons yang berulang. Anak dengan kondisi ini biasanya sangat terikat pada rutinitas tertentu dan sensitif terhadap stimuli suara, cahaya, maupun tekstur.

Kebiasaan Pendukung Perkembangan Otak Janin

Ada beberapa langkah preventif dan kebiasaan sehat yang dapat diimplementasikan ibu hamil guna mendukung pembentukan sistem saraf pusat janin secara optimal. Pertama, memenuhi kebutuhan asam folat harian yang umumnya direkomendasikan sebesar 400 mikrogram per hari. Berdasarkan riset dalam Journal of the American Medical Association (JAMA), suplemen ini efektif menekan risiko gangguan saraf.

Nutrisi ini bisa diperoleh dari sayur hijau, kacang-kacangan, buah, maupun suplemen dokter. Langkah kedua adalah tetap aktif bergerak melalui olahraga ringan seperti jalan kaki atau yoga prenatal yang menjaga sirkulasi darah tetap lancar.

Ketiga, menjaga pola makan seimbang dengan mengonsumsi protein, omega-3, zat besi, serta vitamin. Keempat, menghindari paparan zat berbahaya seperti rokok dan alkohol yang dapat merusak perkembangan janin.

Kelima, mengelola stres dengan baik selama masa kehamilan. Ibu hamil disarankan untuk beristirahat cukup dan mencari aktivitas yang menyenangkan guna menghindari tekanan emosional berkepanjangan.

Korelasi Penurunan Risiko hingga 30 Persen

Klaim mengenai penurunan risiko autisme hingga 30 persen didasarkan pada data ilmiah yang kuat. Angka tersebut diperoleh dari hasil analisis mendalam terhadap berbagai dokumen penelitian.

Sebuah umbrella review yang merangkum 101 studi dengan melibatkan lebih dari 3 juta partisipan mengonfirmasi temuan tersebut. Konsumsi asam folat selama kehamilan terbukti berkaitan dengan penurunan risiko ASD sebesar 30 persen.

Sementara itu, konsumsi multivitamin prenatal secara rutin didapati mampu menurunkan risiko hingga 34 persen. Data ini menunjukkan signifikansi pemenuhan nutrisi bagi perkembangan saraf makro pada fase awal kehidupan janin.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author