Sperma Masuk ke Kandungan saat Hamil 2 Bulan Dipastikan Aman
Kekhawatiran mengenai keamanan berhubungan intim sering kali muncul pada masa awal kehamilan. Banyak ibu hamil merasa cemas bahwa sperma yang masuk ke dalam kandungan dapat mengganggu perkembangan janin atau memicu keguguran.
Aktivitas seksual umumnya aman untuk dilakukan bagi ibu yang menjalani kehamilan tanpa komplikasi, seperti dilansir dari HaiBunda. Hal ini termasuk kondisi ketika sperma masuk ke dalam vagina saat ejakulasi terjadi.
Cairan sperma yang dikeluarkan saat ejakulasi dinilai aman bagi ibu hamil maupun janin di dalam kandungan. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Carolyn Kay, M.D., menjelaskan bahwa sperma tidak membahayakan dan justru memiliki kegunaan tertentu.
"Sperma dan hubungan seks vaginal dapat membantu memicu persalinan ketika saatnya tiba. Oksitosin, salah satu hormon kunci yang terlibat dalam kemajuan persalinan, dilepaskan selama hubungan seksual, dan orgasme meniru kontraksi. Selain itu, prostaglandin dalam sperma dapat membantu mematangkan serviks," kata Kay dilansir dari Healthline.
Banyak pria juga merasa khawatir akan melukai calon anak mereka akibat penetrasi saat berhubungan intim. Berdasarkan data survei tahun 2014, terdapat sekitar 80 persen pria yang memiliki kekhawatiran tersebut.
"Jika itu yang Anda rasakan saat ini, Anda dapat bernapas lega. Air mani dan sperma yang masuk ke dalam vagina selama hubungan seks penetratif tidak akan membahayakan bayi. Sebagian besar akan dikeluarkan dari tubuh melalui lubang vagina," ujar Kay.
Janin memiliki sistem perlindungan yang sangat spesifik di dalam rahim berkat keberadaan plasenta, kantung amnion, dan sumbat lendir yang menutupi serviks. Perlindungan tersebut menjaga bayi dari kontak dengan penis maupun masuknya sperma.
Penyebab Keguguran dan Risiko Infeksi
Anggapan bahwa hubungan intim pada trimester pertama menjadi penyebab keguguran merupakan mitos yang tidak benar. Berbagai organisasi kesehatan menyatakan bahwa aktivitas seksual tidak memicu keguguran pada kondisi kehamilan yang normal.
Mayo Clinic menyebutkan bahwa mayoritas kasus keguguran terjadi karena janin tidak berkembang dengan semestinya. Kondisi ini umumnya dipicu oleh kelainan kromosom yang sudah terjadi sejak proses pembuahan.
Secara statistik, sekitar 10 persen kehamilan berakhir dengan keguguran, dan sebagian besar terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu. Namun, masuknya sperma ke vagina maupun hubungan seksual bukan menjadi penyebab kondisi tersebut.
Faktor risiko yang harus diwaspadai saat berhubungan intim dalam masa kehamilan adalah penularan infeksi menular seksual (IMS). Perlindungan yang tepat sangat dibutuhkan karena infeksi panggul dapat memicu persalinan dini, keguguran, hingga komplikasi kesehatan lain.
Kondisi Kehamilan yang Dilarang Berhubungan Seks
Hubungan intim tidak disarankan jika tenaga kesehatan menyatakan bahwa ibu memiliki kondisi kehamilan berisiko tinggi. Terdapat beberapa situasi spesifik yang membuat dokter atau bidan melarang aktivitas seksual demi keselamatan medis.
Berdasarkan data dari American Pregnancy, situasi yang dilarang untuk berhubungan intim meliputi:
– Riwayat kelahiran prematur atau persalinan prematur.
– Riwayat keguguran.
– Jika ketuban pecah.
– Mengalami perdarahan atau keputihan vagina yang tidak dapat dijelaskan.
– Memiliki plasenta previa atau plasenta yang sangat rendah.
– Memiliki serviks yang tidak kompeten atau jika serviks telah melebar.
– Bunda atau Ayah memiliki penyakit menular seksual.
Selain kondisi di atas, aktivitas seksual anal juga tidak dianggap aman dan harus dihindari selama masa kehamilan. Ibu hamil yang memiliki riwayat komplikasi atau perdarahan disarankan melakukan konsultasi dengan dokter kandungan terlebih dahulu.