Kasus Ebola di Kongo Melonjak Menjadi 260 Pasien
Jumlah kasus terkonfirmasi virus Ebola di Republik Demokratik Kongo melonjak menjadi 260 orang setelah otoritas kesehatan memperbarui perkiraan ukuran wabah yang dipicu strain Bundibugyo tersebut pada Sabtu (30/5/2026).
Lonjakan infeksi ini meluas di lebih dari selusin zona kesehatan yang tersebar di tiga provinsi, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Menteri Kesehatan Kongo Roger Kamba mengumumkan data terbaru tersebut dalam konferensi pers di Bunia, kota yang menjadi pusat epidemi.
Pemerintah Kongo juga telah mendapat kesepakatan dari otoritas kesehatan Amerika Serikat untuk menyokong penggunaan terapi antibodi eksperimental dalam uji coba tahap menengah.
"yang sangat menjanjikan," kata Roger Kamba, Menteri Kesehatan Kongo saat merujuk pada penelitian untuk menentukan kemanjuran obat tersebut.
Kamba menjelaskan bahwa Kongo menerima dukungan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS untuk meluncurkan pengujian antibodi fase 2 tersebut.
Menurutnya, terapi obat ini telah memperlihatkan hasil positif pada pengujian hewan serta manusia, dan pengiriman dosis awal akan segera tiba.
Sementara itu, organisasi medis independen Dokter Tanpa Batas memperingatkan bahwa kecepatan penyebaran epidemi berpotensi melampaui kapasitas penilaian tim di lapangan.
Kondisi tersebut diperparah oleh penumpukan ratusan sampel yang masih mengantre untuk diperiksa di laboratorium.
“Realitas saat ini adalah tidak ada yang tahu skala dan tingkat keparahan sebenarnya dari wabah ini,” kata Alan Gonzalez, wakil direktur operasi Dokter Tanpa Batas (MSF).
“Belum pernah sebelumnya wabah Ebola mencatat begitu banyak kasus begitu cepat setelah deklarasinya.”
Gonzalez menambahkan bahwa kasus-kasus baru yang diduga masih terus berdatangan setiap hari di saat kapasitas pengujian belum maksimal.
Di sisi lain, ia menilai kebijakan penutupan perbatasan dan bandara oleh sejumlah negara justru mempersulit penyaluran bantuan.
“Kita tahu dari pengalaman bahwa langkah-langkah ini sangat menghambat penanggulangan wabah, dan mengisolasi negara-negara yang sangat membutuhkan dukungan internasional,” kata Alan Gonzalez.
“Jumlah organisasi medis ahli yang merespons di lapangan masih terlalu terbatas, dan tingkat dukungan yang diberikan, termasuk dari kita sendiri, jauh dari yang dibutuhkan.”
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus ikut mendesak negara-negara terkait untuk meninjau ulang pembatasan perjalanan demi menjaga transparansi penanganan.
WHO sejauh ini merekomendasikan tiga kandidat terapi klinis untuk dievaluasi, yakni antibodi monoklonal MBP134, Maftivimab, dan antivirus remdesivir produksi Gilead Sciences Inc.
“Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo dapat disembuhkan dengan perawatan medis yang baik,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO kepada wartawan di Bunia.
“Beberapa orang di sini di Ituri sudah pulih.”
Hingga saat ini, Uganda yang berbatasan dengan Kongo turut mendeteksi sembilan kasus Ebola, di mana satu pasien di antaranya dilaporkan meninggal dunia.