Ketahui 11 Kalimat untuk Menenangkan Anak Saat Mengalami Kecemasan
Rasa cemas merupakan kondisi psikologis yang dapat dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Perasaan ini biasanya muncul saat Si Kecil berhadapan dengan situasi baru yang belum pernah mereka lalui sebelumnya. Kendati demikian, sebagian anak dapat mengalami rasa takut yang berlebihan dan berlangsung dalam jangka waktu lama.
Dilansir dari HaiBunda, situasi tersebut memerlukan perhatian khusus dari orang tua guna menjaga kondisi mental anak. Berdasarkan data National Institute of Mental Health (NIMH), satu dari empat anak berpotensi mengalami gangguan kecemasan sepanjang hidup mereka. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga mencatat adanya peningkatan angka kecemasan anak dari waktu ke waktu.
Pendampingan yang tepat dari orang tua sangat dibutuhkan ketika kecemasan melanda anak. Pilihan kalimat yang membuat anak merasa didengar dan tenang dapat membantu meredakan kegelisahan mereka.
Dikutip dari laman Tinybeans dan Parade, terdapat beberapa opsi kalimat yang bisa digunakan orang tua untuk menenangkan anak yang sedang cemas. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengajak anak mengolah napas. Orang tua dapat mengucapkan, "Mari kita tarik napas dalam-dalam bersama-sama."
Teknik pernapasan ini dinilai efektif untuk menenangkan sistem saraf yang sedang tegang. Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Deborah Vinall, PsyD, LMFT, memberikan penjelasannya mengenai hal ini. "Orang tua dapat melatih teknik pernapasan dalam bersama anak. Ini dapat mencakup teknik seperti pernapasan bergantian melalui lubang hidung atau menghitung napas perlahan masuk melalui hidung dan keluar melalui mulut," kata Vinall.
Kalimat berikutnya yang bisa digunakan adalah pertanyaan terbuka seperti, "Bagaimana Bunda bisa membantumu merasa lebih baik?" Pertanyaan ini membantu anak mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Melalui respons tersebut, anak akan menyadari bahwa orang tua memahami beban emosional yang sedang mereka rasakan.
Anak juga tidak merasa terasing saat menghadapi masalahnya. Orang tua juga bisa memberikan jaminan rasa aman dengan berkata, "Bunda ada di sini. Kamu aman."
Kalimat ini menguatkan perlindungan emosional anak dari ketakutan yang ada dalam pikiran mereka.
Metode pengalihan fokus juga dapat diterapkan melalui kalimat, "Ayo kita hitung sampai 20 bersama-sama." Menghitung angka secara perlahan mampu mengalihkan perhatian anak dari pemicu stres di sekitarnya.
Ketika anak merasa kewalahan oleh lingkungan sekitar, orang tua bisa mengarahkan fokus mereka. Ucapkan kalimat, "Banyak hal yang terjadi, tetapi fokuslah hanya pada apa yang ada di depanmu." Validasi terhadap perasaan anak juga penting dilakukan agar mereka merasa dimengerti.
Kalimat seperti, "Bunda tahu ini bisa terasa menakutkan," dapat membuat anak lebih terbuka untuk bercerita. Selain itu, anak perlu diingatkan bahwa rasa cemas yang mendera bersifat temporer. Orang tua bisa menyampaikan, "Semuanya baik-baik saja, momen ini akan berlalu."
Terkait hal tersebut, psikolog klinis Lauren Cook, PhD, memberikan pandangan mengenai pentingnya pemahaman durasi kecemasan bagi anak.
"Memberi tahu mereka bahwa ketidaknyamanan mereka tidak akan berlangsung selamanya, dan bahkan memasang pengatur waktu untuk menunjukkan bagaimana perasaan mereka dapat berubah bahkan dalam waktu 10 menit," ujar Cook. Kecemasan sering kali dipicu oleh rasa takut kehilangan kendali atas situasi baru. Untuk mengatasinya, orang tua bisa memicu imajinasi positif anak dengan bertanya, "Ceritakan apa yang menurutmu akan terjadi selanjutnya."
Membangun kepercayaan diri anak juga krusial dalam mengatasi kekhawatiran mereka. Kalimat afirmasi positif seperti, "Kamu berani, kamu pasti bisa," dapat membangkitkan motivasi internal anak. Orang tua juga bisa melatih anak untuk melakukan dialog mandiri yang positif. Ajaklah Si Kecil dengan arahan, "Katakan pada diri sendiri, 'Aku bisa melakukan ini!'"
Terakhir, orang tua harus menormalisasi emosi negatif yang wajar sebagai respons psikologis. Katakan kepada mereka, "Tidak apa-apa merasa gugup," lalu bimbing anak mengalihkan gugup tersebut ke hal yang bisa dikendalikan.