Kai Havertz Targetkan Trofi Liga Champions Bersama Arsenal

Share

Panggung tertinggi kompetisi antarklub Eropa kembali menyajikan atmosfer emosional bagi Kai Havertz. Penyerang Arsenal asal Jerman tersebut bersiap mengulang memori indah yang pernah dirasakannya beberapa tahun silam.

Dikutip dari Bola, Havertz pernah menjadi pahlawan kemenangan saat masih berseragam Chelsea pada final Liga Champions 2021 di Porto. Gol tunggalnya ke gawang Manchester City memastikan The Blues mengangkat trofi paling bergengsi tersebut.

Kini, momentum serupa kembali hadir di depan mata. Havertz berkesempatan besar untuk merebut trofi kuping besar keduanya saat Arsenal bersua Paris Saint-Germain pada laga final di Budapest, Sabtu (30-5-2026).

Kenangan manis di Porto diakui Havertz masih tersimpan rapat dalam ingatannya hingga saat ini.

"Itu sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan," kata Havertz.

"Saat masih kecil, saya tidak pernah membayangkan bisa mencetak gol di final Liga Champions dan memenangkan pertandingan itu. Saya akan selalu bangga dengan momen tersebut. Sekarang saya hanya mencoba membawa perasaan yang sama dan berharap hal itu bisa terjadi lagi," imbuhnya.

Menjelang pertandingan krusial melawan PSG, The Gunners tidak terlalu diunggulkan oleh banyak pihak untuk keluar sebagai pemenang. Kendati demikian, Havertz menggarisbawahi bahwa situasi yang sama persis pernah ia lewati sewaktu membela Chelsea.

Kala itu, Chelsea yang ditukangi Thomas Tuchel harus berhadapan dengan Manchester City asuhan Pep Guardiola yang baru saja menjuarai Premier League dengan selisih 12 poin. Sementara itu, Chelsea terseok-seok di peringkat keempat dan tertinggal hingga 19 angka.

"Kami memang bukan unggulan saat itu," ujar Havertz.

"Kami tidak menjalani musim terbaik. Namun, sekarang situasinya benar-benar berbeda," katanya.

Kondisi Arsenal menjelang final kali ini terbilang jauh lebih ideal. Tim meriam London datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah berhasil mengamankan gelar Premier League pertama mereka sejak tahun 2004.

Havertz juga berpeluang besar tampil sejak menit awal pertandingan. Namanya belakangan ini lebih sering dipercaya oleh tim pelatih untuk mengisi lini serang ketimbang rekrutan anyar, Viktor Gyokeres.

Sensasi Menembus Partai Puncak

Bagi pemain yang kini menginjak usia 26 tahun tersebut, atmosfer pertandingan final Liga Champions selalu mendatangkan perasaan yang luar biasa dan sulit diungkapkan dengan kata-kata.

"Kompetisi ini memiliki begitu banyak sejarah," katanya.

"Banyak pemain hebat pernah bermain di sana. Bisa berada di final dan bersaing untuk memenangkan trofi itu adalah sesuatu yang luar biasa."

"Saya ingat ketika masih kecil selalu menonton pertandingan Liga Champions. Bahkan hanya menyaksikan finalnya saja sudah terasa sangat istimewa. Jadi, bisa bermain di final itu rasanya sulit dipercaya," ungkap pemain berusia 26 tahun itu.

"Anda harus lebih dulu mencapai final, lalu masih harus mengambil langkah berikutnya, yaitu memenangkannya. Itu akan sulit, tetapi kami akan mempersiapkan diri sebaik mungkin," tambah Havertz.

Balasan untuk Kepercayaan Mikel Arteta

Keputusan manajemen Arsenal menggelontorkan dana mencapai 65 juta paun untuk memboyong Havertz dari Chelsea sempat memicu keraguan dari publik sepak bola. Namun, performa konsisten di atas lapangan menjadi jawaban telak atas segala kritik tersebut.

Pada musim pertamanya, Havertz langsung menjelma sebagai pencetak gol terbanyak bagi klub. Catatan impresif tersebut ditorehkannya meskipun ia harus menepi dari lapangan hijau selama tiga bulan akibat dibekap cedera hamstring.

Kini, laga final di Budapest menjadi panggung terbaik bagi Havertz untuk membalas budi atas kepercayaan penuh yang diberikan sang manajer, Mikel Arteta.

"Dialah orang yang membawa saya ke klub ini," ujar Havertz.

"Dia mengajari saya banyak hal, baik di dalam maupun di luar lapangan. Saya sangat berterima kasih atas semua bantuan yang dia berikan, terutama ketika saya mengalami masa-masa sulit."

"Karena itu menyenangkan rasanya ketika kami bisa memberikan sedikit hadiah untuknya sekarang, yaitu gelar Premier League. Dia membawa klub ini kembali ke tempat yang semestinya," ucap mantan pemain Bayern Leverkusen itu.

Bangkit Setelah Badai Cedera

Perjalanan Havertz sepanjang musim ini sejatinya tidak berjalan mulus. Cedera lutut serius yang didapatnya pada laga pembuka melawan Manchester United memaksanya absen selama hampir lima bulan sebelum akhirnya merumput kembali pada Januari lalu.

Penanganan cedera tersebut terbukti lebih pelik dari perkiraan awal tim medis. Havertz mesti melewati dua kali tindakan operasi dan menghabiskan waktu berminggu-minggu dengan bantuan penyangga lutut.

"Saya berada dalam kondisi yang buruk saat cedera," ungkap Havertz.

"Anda hanya berada di dalam gedung. Tidak bisa keluar, tidak bisa berjalan, tidak melakukan apa pun."

"Tetapi semua pemain dan staf membantu saya untuk tetap percaya kepada diri sendiri dan kembali ke performa terbaik."

"Sejak Januari semua orang terus mengatakan kepada saya bahwa masih ada banyak hal yang bisa diperjuangkan musim ini. Dari situlah semangat saya kembali tumbuh."

"Saya senang bisa berada di sini lagi sekarang. Saya selalu berusaha membantu tim setiap hari. Bahkan saat cedera pun saya mencoba membantu dari luar lapangan. Itu juga penting."

Dampak Besar di Jalur Juara

Peran Havertz terbukti krusial dalam mengantarkan klub asal London Utara ini melaju hingga ke babak final. Ia sukses menyumbang gol penting saat menyingkirkan Bayer Leverkusen di babak 16 besar dan Sporting CP di fase perempat final.

Di kancah domestik, sumbangan golnya ke gawang Burnley di Emirates Stadium menjadi gol kandang perdananya di kompetisi liga dalam satu tahun terakhir. Gol tersebut sekaligus melapangkan jalan bagi pesta juara Arsenal.

Havertz juga sempat mencatatkan namanya di papan skor saat menghadapi laga sengit melawan Manchester City di Stadion Etihad pada April lalu.

Titik Balik Kebangkitan Arsenal

Meskipun kalah dari Manchester City di Premier League, Havertz menilai momen itu bukan titik balik utama musim mereka. Menurut pandangannya, perubahan mentalitas tim justru terjadi selepas mereka takluk dari lawan yang sama di final Piala Liga Inggris.

"Itu adalah momen ketika kami merasa sebenarnya bisa tampil jauh lebih baik," kata Havertz.

"Kami merasa tim ini masih memiliki potensi yang lebih besar dan semua orang perlu kembali mengangkat semangatnya."

"Setelah itu ada jeda internasional dan kami mengatakan kepada diri sendiri bahwa kami harus kembali lebih kuat."

"Sejak saat itu banyak hal berubah dan kami menjadi lebih sukses. Itu momen yang sangat penting."

"Anda selalu merasa frustrasi ketika kalah di final. Karena itu bisa bangkit dari situasi tersebut dan kemudian menjuarai liga seperti yang kami lakukan, adalah sesuatu yang luar biasa."

Keberhasilan meruntuhkan dominasi dan mengakhiri dahaga gelar juara liga domestik kini menjadi suntikan motivasi masif bagi skuad Arsenal menjelang laga penentuan kontra raksasa Prancis.

"Kami sudah bersaing di level tertinggi selama beberapa tahun terakhir dan akhirnya berhasil memenangkan Premier League," ujar Havertz.

"Itu memberi kami dorongan besar. Tidak masalah apakah orang menganggap kami bukan unggulan atau apa pun."

"Kami akan masuk ke lapangan dan kami akan mengalahkan mereka," tegas pemain Timnas Jerman tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author