Jose Mourinho Tegaskan Tak Punya Perasaan Negatif terhadap Barcelona
Kembalinya Jose Mourinho sebagai pelatih Real Madrid untuk periode kedua tidak mengubah pandangannya terhadap Barcelona. Manajer berusia 63 tahun tersebut menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menyimpan sentimen buruk terhadap sang rival abadi.
Seperti dikutip dari Bola, Mourinho telah menandatangani kontrak dua tahun bersama Los Blancos bulan lalu. Dirinya ditunjuk untuk menggantikan Alvaro Arbeloa yang sebelumnya mengisi posisi tersebut sejak Januari setelah pemecatan Xabi Alonso.
Momen ini menandai kembalinya pria asal Portugal tersebut ke Santiago Bernabeu setelah 13 tahun berpisah. Pada masa jabatan pertamanya di Madrid yang berlangsung tahun 2010 hingga 2013, ia terlibat persaingan ketat dengan Barcelona arahan Pep Guardiola dan sukses mempersembahkan satu gelar La Liga, satu Copa del Rey, serta satu Supercopa.
Sebelum kembali ke Spanyol, karier kepelatihan Mourinho sempat berlanjut ke beberapa klub besar. Ia pernah menangani Chelsea, Manchester United, Tottenham Hotspur, AS Roma, Fenerbahce, dan Benfica.
Mourinho sebenarnya memiliki keterikatan sejarah dengan Blaugrana, di mana ia mengawali langkah di dunia sepak bola profesional sebagai bagian dari staf kepelatihan klub tersebut sebelum akhirnya menjadi pelatih kepala.
Kariernya semakin melesat ketika membawa Inter Milan meraih trofi Liga Champions 2010, termasuk momen krusial saat menyingkirkan Barcelona di fase semifinal.
Kendati atmosfer rivalitas pada periode pertamanya di Madrid tergolong sangat panas, Mourinho menepis anggapan bahwa dirinya anti-Barcelona.
"Pada akhirnya saya tidak menyangkal bahwa saya mencintai Real Madrid, dan itulah alasan saya kembali. Namun, saya sama sekali tidak memiliki perasaan buruk terhadap Barcelona," kata Mourinho kepada Vanity Fair dalam wawancara pertamanya sejak kembali ke Madrid.
"Saya menikmati menghadapi mereka karena dalam sepak bola, Anda ingin melawan yang terbaik. Tim terbaik mendorong Anda untuk menjadi lebih baik," imbuhnya.
Rekor Pertemuan dan Kontradiksi Gaya Bermain
Mourinho mencatat bahwa dirinya sudah berulang kali berhadapan dengan klub Catalunya itu, bahkan sebelum ia melatih klub Italia maupun Real Madrid.
"Saya menjalani pertandingan besar Liga Champions bersama Chelsea, kemudian pertandingan besar Liga Champions bersama Inter, lalu saya datang ke Real Madrid. Saya rasa takdir yang mempertemukan kami berkali-kali," katanya.
Meski mengagumi sang rival, Mourinho juga melontarkan kritik terkait persepsi publik mengenai produktivitas gol kedua tim pada masa lalu.
"Barcelona dipandang sebagai tim yang memainkan sepak bola luar biasa. Barcelona juga dipandang sebagai tim yang mencetak banyak gol. Namun, ada kontradiksi besar di situ," kata pelatih asal Portugal tersebut.
"Tim yang mencetak gol terbanyak dalam sejarah sepak bola Spanyol adalah Real Madrid saya pada musim 2011/2012, dengan 121 gol dan 100 poin dalam satu musim. Seberapa defensif tim itu?" ujarnya.
Mengenang Rivalitas Ronaldo dan Messi
Lebih lanjut, juru taktik berjuluk the Special One ini mengenang persaingan ikonik antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi yang sempat menjadi magnet terbesar dalam laga El Clasico.
"Orang-orang tidak lagi menantikan El Clasico seperti dulu. Saat itu dunia seakan berhenti. Bukan hanya Madrid and Barcelona atau Spanyol, tetapi seluruh dunia menunggu pertandingan itu."
"Tentu saja Cristiano dan Messi adalah ikon. Mereka merupakan dua pemain terbaik di dunia. Real Madrid adalah klub terbaik di dunia. Barcelona adalah satu di antara klub terbaik di dunia setelah Real Madrid," lanjutnya.
Untuk periode keduanya di ibu kota Spanyol, Mourinho menyatakan akan mengadopsi pendekatan yang lebih tenang dalam memimpin tim.
"Apa yang ingin saya lakukan adalah membantu para pemain menjadi lebih baik, membantu tim menjadi lebih baik, dan membantu klub menjadi lebih baik. Saya ada di sana untuk membantu semua orang, bukan untuk mengkritik, bukan untuk berbicara, tetapi untuk mendengarkan," tutur pelatih berjuluk the Special One itu.