Jerman Gagal Raih Kursi Dewan Keamanan PBB Usai Kalah Suara

Share

Kegagalan melanda Jerman dalam pemungutan suara yang berlangsung pada Rabu (3/6) saat memperebutkan kursi sementara di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Seperti dilansir dari Detikcom, Jerman kalah bersaing dari Austria dan Portugal untuk wilayah Eropa Barat dan Lainnya.

Berbicara kepada pers setelah pemungutan suara, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyebut hasil itu sebagai kekecewaan besar.

Untuk mendapatkan kursi tidak tetap di DK PBB selama dua tahun ke depan, Jerman membutuhkan dukungan dua pertiga suara dari Majelis Umum PBB. Forum ini beranggotakan seluruh negara anggota PBB, sedangkan Dewan Keamanan PBB hanya diisi 15 negara dari total 193 negara anggota.

Dalam perebutan dua kursi tersebut, Portugal berhasil mengamankan posisi dengan meraih 134 suara, disusul Austria yang memperoleh 131 suara. Sementara itu, Jerman berada di belakang keduanya karena hanya mendapatkan 104 suara.

Di kawasan lain, Zimbabwe serta Trinidad dan Tobago masing-masing terpilih tanpa lawan untuk kursi yang dialokasikan bagi kawasan Afrika. Adapun Kirgistan, negara di Asia Tengah, juga berhasil terpilih setelah mengalahkan Filipina dalam pemungutan suara.

Kementerian luar negeri di Berlin mengklaim Jerman merupakan penyumbang dana terbesar kedua untuk PBB. Menjelang pemungutan suara, Menteri Luar Negeri Wadephul mengatakan Jerman memiliki tawaran yang kuat dan siap memikul tanggung jawab di DK PBB.

Wadephul juga mendorong reformasi Dewan Keamanan PBB agar negara-negara Global South mendapat peran lebih besar. Namun, wartawan DW Benjamin Alvarez Gruber yang meliput di New York mencatat bahwa Rusia menjalankan kampanye lobi yang intens untuk menggagalkan pencalonan Jerman. Jerman sendiri merupakan salah satu pendukung utama Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.

Setelah pemungutan suara, Kanselir Jerman Friedrich Merz memberikan tanggapan mengenai hasil yang diperoleh negaranya.

"Kami mengajukan diri dengan keyakinan. Namun, kami tidak berhasil mencapai tujuan itu."

"Hasil ini tidak mengubah tugas yang kami hadapi di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Jerman tetap menjadi pilar yang dapat diandalkan dalam sistem multilateral," katanya.

Wadephul, yang datang langsung ke markas PBB di New York, menilai posisi politik Jerman terkait perang di Ukraina dan Gaza kemungkinan ikut memengaruhi pilihan sejumlah negara anggota.

"Ya, ada beberapa isu yang sejak awal selalu kami sikapi dengan posisi yang jelas, dan posisi itu tidak selalu sejalan dengan semua negara anggota PBB," kata Wadephul.

"Salah satunya adalah dukungan kami yang sangat kuat untuk Ukraina. Bukan rahasia lagi bahwa Rusia tidak ingin suara seperti itu ada di Dewan Keamanan."

"Selain itu, fakta bahwa Jerman selalu merasa memiliki tanggung jawab khusus terhadap Israel dalam konflik Timur Tengah juga mungkin membuat kami kehilangan suara," lanjut Wadephul.

Kritik Internal dan Struktur DK PBB

Jurgen Hardt, anggota Bundestag Jerman yang menjabat sebagai juru bicara kebijakan luar negeri untuk kelompok parlemen konservatif CDU/CSU, mengatakan kegagalan Jerman meraih kursi Dewan Keamanan patut disayangkan.

Sementara itu, Partai Hijau menyalahkan Wadephul dan Merz atas kegagalan tersebut karena menilai pemerintah belum berbuat cukup dalam perlindungan iklim serta menyoroti pemangkasan bantuan pembangunan.

Jerman terakhir kali menjadi anggota Dewan Keamanan PBB pada 2019 dan 2020. Dewan Keamanan PBB adalah satu-satunya badan di PBB yang resolusinya bersifat mengikat secara hukum.

Dewan Keamanan terdiri atas 15 dari 193 negara anggota PBB. Amerika Serikat, Inggris, Cina, Rusia, dan Prancis merupakan lima anggota tetap Dewan Keamanan dan memiliki hak veto.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author