Jepang Diguncang Gempa M 7,1, Pemicu dan Kesiapsiagaan Jadi Sorotan

Share

Wilayah Kumamoto di Pulau Kyushu, Jepang bagian selatan, dilanda gempa bumi berkekuatan M 7,1 pada Selasa (28/7/2026) sore waktu setempat. Berdasarkan laporan lembaga penyiaran publik Jepang NHK yang dikutip dari Detikcom, sedikitnya 13 orang dilaporkan meninggal dunia hingga Rabu (29/7/2026). Guncangan hebat tersebut mengakibatkan kerusakan parah, seperti runtuhnya sebuah pusat perbelanjaan, kereta terbalik, serta jembatan ambruk.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) langsung mengeluarkan peringatan tsunami dengan perkiraan tinggi gelombang mencapai 1 meter di area pesisir.

Peristiwa ini menambah deretan aktivitas seismik besar di Jepang, setelah sebelumnya diguncang gempa M 7,4 pada April, M 5,7 pada Mei, dan M 7,2 pada 25 Juni. Tingginya frekuensi guncangan di wilayah ini dipengaruhi oleh tiga faktor kondisi geologis utama.

1. Terletak di Jalur Cincin Api Pasifik

Jepang berada di sepanjang "Cincin Api Pasifik", yaitu jalur melengkung gunung berapi yang mengelilingi Samudra Pasifik.

Jalur ini juga melintasi Indonesia, Filipina, hingga Australia, membuat negara-negara di kawasannya rawan gempa, letusan gunung berapi, dan tsunami.

2. Pertemuan Lempeng Tektonik dan Patahan Aktif

Data dari University of Tokyo menunjukkan posisi Jepang berada di atas empat pertemuan lempeng tektonik.

Wilayah negara ini juga memiliki lebih dari 2.000 patahan aktif yang memicu terjadinya guncangan berkekuatan lebih dari M 6 secara berkala.

3. Keberadaan Ratusan Gunung Berapi Aktif

Jepang mengoperasikan sekitar 110 gunung berapi aktif, yang menyumbang sekitar 7 persen dari total gunung berapi aktif di dunia.

Kondisi geografis ini membuat Jepang mengalami ribuan guncangan setiap tahun, menyumbang sekitar 18 persen dari total kejadian gempa di bumi.

Sistem Adaptasi dan Mitigasi Bencana

Studi ilmiah mengenai kegempaan di Jepang telah dikembangkan sejak akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1891. Pada tahun 1925, Institut Penelitian Gempa didirikan di Universitas Kekaisaran Tokyo (sekarang Universitas Tokyo) untuk mengamati fenomena tektonik dan vulkanik.

Pemerintah Jepang melengkapi infrastruktur pendukung, mulai dari detektor gempa dan tsunami canggih, bangunan tahan guncangan, hingga sistem peringatan dini. Edukasi mitigasi diterapkan sejak dini melalui simulasi gempa secara rutin bagi anak-anak di sekolah. Pelatihan darurat juga diberikan kepada karyawan di tempat kerja dan ruang publik guna memastikan evakuasi berjalan fokus saat guncangan terjadi.

Masyarakat setempat turut membiasakan diri dengan menyiapkan persediaan serta perlengkapan darurat mandiri di rumah masing-masing.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bencana alam gempa bumi Jepang
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author