Jepang Budidayakan Ikan Sidat dari Telur untuk Atasi Kelangkaan

Share

Populasi ikan sidat atau belut Jepang yang kian terancam punah mendorong Jepang untuk memperkenalkan hasil penangkaran mandiri. Produk inovasi ini mulai dipasarkan dengan harga berkisar antara Rp 900 ribu hingga Rp 1 jutaan per ekor.

Seperti dilansir dari Detik Food, belut merupakan hidangan yang populer dikonsumsi di berbagai wilayah, termasuk Jepang. Kuliner ini umumnya diolah melalui proses pemanggangan dengan baluran saus manis sebelum disajikan kepada konsumen.

Namun, para ilmuwan yang dikutip melalui situs VN Express mengungkapkan bahwa populasi belut mengalami penurunan secara global. Penurunan tersebut utamanya dipicu oleh aktivitas manusia, seperti polusi di saluran air, kerusakan lahan basah, pembangunan bendungan pembangkit listrik, serta eksploitasi penangkapan ikan.

Spesies ini dikenal sangat sulit melakukan reproduksi di Jepang tanpa adanya intervensi manusia. Peneliti setempat baru berhasil melakukan penangkaran ikan sidat dari fase telur di dalam laboratorium pada tahun 2010, meski terkendala biaya yang sangat tinggi.

Sejak keberhasilan awal tersebut, tim peneliti terus berupaya menekan pengeluaran besar dalam proses pengembangbiakan dari telur agar harga jual produk akhir dapat dijangkau oleh pasar.

Melalui serangkaian terobosan teknologi skala kecil, biaya budidaya per ekor berhasil diturunkan menjadi sekitar 1.800 yen atau setara Rp 200.728. Sebelumnya, biaya produksi bertengger di angka 40.000 yen atau sekitar Rp 4,4 juta per ekor sepanjang tahun fiskal 2016. Penurunan harga ini bahkan disebut telah melewati angka satu juta yen.

Uji Coba Pasar Kuliner Kabayaki

Meskipun mengalami penurunan, nominal tersebut masih tiga hingga empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan harga belut yang ditangkap langsung dari alam liar.

Petinggi badan perikanan, Yasutaka Okamoto, menyatakan bahwa momen ini menjadi waktu yang tepat untuk menguji respons dari pasar. Proyek pembiakan dari telur ini kemudian mengintegrasikan kerja sama antara peneliti, pemerintah, institusi universitas, serta sektor swasta.

Di negara asalnya, komoditas ini disebut ikan sidat dan kerap diterjemahkan secara umum sebagai belut air tawar. Secara biologis dan struktur fisik, hewan ini merupakan ikan sidat yang dilengkapi sirip serta sisik berukuran sangat halus. Karakteristik dagingnya bertekstur lembut, empuk, dan tidak kenyal.

Ikan sidat di Jepang biasa dihidangkan dalam bentuk kabayaki. Hidangan kabayaki yang menggunakan bahan baku hasil budidaya ini mulai dijual di salah satu gerai di Tokyo.

Yamada Suisan, perusahaan yang bergerak di bidang budidaya tersebut, mengklaim langkah ini sebagai yang pertama di dunia. Pihak korporasi menilai momentum ini sangat tepat untuk mengakselerasi komersialisasi belut budidaya secara menyeluruh. Dua ekor belut kabayaki dibanderol seharga 9.000 yen atau sekitar Rp 1 jutaan, nominal yang dinilai sepadan dengan kualitas tinggi produk.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author