Jensen Huang Kritik CEO yang Jadikan AI Alasan PHK Karyawan
CEO Nvidia Jensen Huang mengkritik keras fenomena pemutusan hubungan kerja atau PHK di berbagai perusahaan global yang menggunakan dalih perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Gelombang pengurangan karyawan marak terjadi, namun pengaitan keputusan tersebut dengan efisiensi AI dinilai sebagai langkah yang tidak bertanggung jawab, dilansir dari Detik iNET yang mengutip Asia One dan CNA.
Huang menganggap narasi yang dibangun oleh para pemimpin perusahaan tersebut keliru karena lini masa efisiensi teknologi dan kebijakan pengurangan staf dirasa tidak sinkron.
"Bagaimana mungkin AI baru menjadi produktif dan berguna enam bulan yang lalu, tapi entah bagaimana mereka sudah mem-PHK orang sejak dua tahun lalu dengan alasan AI? Itu sama sekali tidak masuk akal," tegas Huang, CEO Nvidia.
Menurut pemimpin Nvidia ini, alasan tersebut hanya digunakan agar para pemimpin korporasi terdengar pintar padahal mereka malas dan enggan bertanggung jawab atas kebijakan manajemen mereka sendiri.
Huang juga mengimbau masyarakat untuk tidak takut melainkan mulai mempelajari teknologi baru ini agar tetap kompetitif di pasar tenaga kerja.
"Anda takkan kehilangan pekerjaan karena AI, Anda akan kehilangan pekerjaan karena seseorang yang mempelajari AI lebih baik dari Anda," ucap Huang, CEO Nvidia.
Kecerdasan buatan justru diproyeksikan untuk membantu mendongkrak performa pekerja serta menaikkan nilai dari tugas yang dikerjakan tersebut.
"Kemungkinan besar AI justru akan meningkatkan kualitas pekerjaan Anda, dan mengangkat tujuan dari pekerjaan itu sendiri," imbuh Huang, CEO Nvidia.
Di sisi lain, kesiapan industri global dalam meregulasi implementasi teknologi baru ini juga perlu diperbaiki demi memitigasi dampak buruk terhadap para pekerja.
"Semua orang harus menjadi bagian dari proses ini," tambah Huang, CEO Nvidia.
Dua perusahaan besar yang baru-baru ini mengumumkan efisiensi staf demi adopsi kecerdasan buatan adalah lembaga keuangan Standard Chartered dan raksasa teknologi Meta.
Standard Chartered mengumumkan rencana pemotongan posisi kerja berskala besar pada tanggal 19 Mei guna mengejar profitabilitas operasi lewat sistem digital.
"Dalam beberapa kasus, ini adalah langkah menggantikan sumber daya manusia yang bernilai lebih rendah dengan modal finansial dan modal investasi yang kami tanamkan," kata Bill Winters, CEO Standard Chartered.
Pernyataan pimpinan bank tersebut sempat memicu protes publik sebelum akhirnya yang bersangkutan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Sementara itu, korporasi Meta turut merumahkan sekitar sepuluh persen pegawainya akibat pembengkakan anggaran investasi pada infrastruktur kecerdasan buatan.