Heart Aerospace Uji Terbang X1 Pesawat Listrik Terbesar di Dunia

Share

Heart Aerospace sukses menggelar uji penerbangan perdana pesawat listrik bertenaga baterai terbesar di dunia bernama X1 di Bandara Internasional Plattsburgh, New York, Amerika Serikat, pada Rabu (12/8/2026). Perusahaan penerbangan yang dikembangkan dari Swedia dan berbasis di Amerika Serikat tersebut menerbangkan prototipe berskala penuh itu selama 27 menit.

Uji jalan di landasan, lepas landas, bermanuver, hingga pendaratan dilakukan di bawah Sertifikat Kelaikan Udara Khusus kategori eksperimental dari Federal Aviation Administration (FAA). Dalam pengujian tersebut, X1 yang memiliki kapasitas 30 orang terbang dikemudikan oleh satu pilot tanpa penumpang hingga mencapai ketinggian 335 meter atau 1.100 kaki dari permukaan tanah dengan kecepatan maksimum 259 km/jam.

Pengoperasian sistem propulsi full-electric bertenaga baterai pada X1 mampu menghasilkan daya lebih dari 1 megawatt lewat empat motor listrik Phase berkapasitas 400 kW. Dimensi fisik X1 memiliki bentang sayap 32,3 meter, panjang 23,2 meter, serta bobot lepas landas maksimum menembus lebih dari 11,3 ton atau setara berat bus sekolah kosong.

Penggunaan daya listrik sepanjang 27 menit penerbangan tersebut hanya menghabiskan biaya energi sekitar 5 dollar AS atau setara Rp80.000 hingga Rp130.000. Angka efisiensi energi ini menarik perhatian industri penerbangan di tengah fluktuasi harga bahan bakar jet global yang mencapai rata-rata 3,50 dollar AS per galon, naik 63 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Keberhasilan teknologi ini dinilai berpotensi mengubah struktur biaya penerbangan regional sekaligus menekan ketergantungan maskapai terhadap harga minyak bumi.

"Dengan penerbangan perdana X1, Heart Aerospace telah mendemonstrasikan kemampuan penerbangan listrik dalam skala pesawat komersial," kata Anders Forslund, Pendiri dan CEO Heart Aerospace.

Pengembangan X1 difungsikan sebagai platform pengujian teknologi dan jembatan menuju produksi ES-30, yakni pesawat hibrida-listrik berkapasitas 30 penumpang yang ditargetkan beroperasi komersial pada 2031 usai sertifikasi FAA Part 25. Proyek ES-30 telah menarik minat maskapai penerbangan dunia seperti United, Air Canada, dan JSX karena diproyeksikan mampu mengurangi biaya operasional hingga 40% dibanding pesawat regional tradisional.

Model ES-30 dirancang memiliki jangkauan 200 kilometer pada mode listrik penuh dan dapat diperpanjang hingga 800 kilometer memanfaatkan kombinasi mesin turboprop pembakaran internal. Pendekatan hibrida ini diterapkan guna mengatasi keterbatasan jangkauan serta bobot tetap baterai yang belum mampu menggantikan penerbangan komersial jarak jauh.

"Untuk penerbangan jarak pendek, ES-30 dapat beroperasi menggunakan tenaga listrik tanpa menghasilkan emisi karbon saat mengudara. Untuk perjalanan yang lebih jauh atau saat dibutuhkan daya tambahan, mesin turboprop digunakan untuk memperpanjang jangkauan operasional," kata Stabler, Perwakilan Heart Aerospace.

Sektor penerbangan saat ini menyumbang sekitar 2,5% dari total emisi karbon dioksida global. Pengembangan pesawat listrik oleh Heart Aerospace bersama produsen lain seperti Rolls-Royce, Harbour Air, Joby Aviation, dan Archer Aviation diharapkan mampu menekan emisi gas rumah kaca di industri penerbangan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author