Israel Perluas Invasi Darat di Lebanon Selatan

Share

Militer Israel memperluas operasi invasi daratnya di wilayah Lebanon pada Minggu (31/5/2026) hingga menyeberangi Sungai Litani di dekat Nabatieh untuk menghancurkan kekuatan Hizbullah yang terus meningkatkan serangan balasan.

Eskalasi besar ini dilansir dari Bloombergtechnoz telah menghancurkan kesepakatan gencatan senjata rapuh yang sebelumnya sempat diupayakan oleh Amerika Serikat. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim berhasil menguasai benteng pertahanan lawan, sementara pihak Hizbullah dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 300 proyektil ke arah pasukan Israel selama akhir pekan.

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat dampak fatal dari rangkaian serangan udara Israel yang telah menewaskan 3.370 orang dan melukai 10.000 warga lainnya. Di sisi lain, lebih dari 20 tentara serta empat warga sipil Israel tewas dalam konflik ini, yang juga memaksa penutupan sekolah-sekolah di zona perbatasan sepanjang 20 kilometer.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa perebutan wilayah militer ini telah menciptakan kehadiran permanen bagi pasukannya di Lebanon selatan demi menjamin keamanan warga mereka.

"Kampanye ini belum berakhir. Kami bersatu dan bertekad untuk menghancurkan kekuatan Hizbullah dan menyelesaikan misi kami: memastikan keamanan yang langgeng bagi penduduk di Utara," kata Katz dalam sebuah pernyataan resmi.

Pihak Lebanon sendiri mengutuk serangan ini namun tetap memprioritaskan jalur diplomasi internasional untuk mencegah kehancuran yang lebih masif bagi masyarakatnya.

"Apakah negosiasi menjamin hasil? Tentu tidak. Tetapi ini adalah jalan yang paling hemat biaya bagi negara dan rakyat kita dibandingkan dengan alternatif saat ini," kata Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam kepada wartawan di Grand Serail pada Sabtu malam.

Selain front Lebanon, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga dilaporkan bersiap memperluas pendudukan militer hingga 70 persen wilayah Jalur Gaza. Bank Sentral Israel mencatat konflik multi-front yang bermula sejak Oktober 2023 ini menjadi perang terpanjang dengan estimasi biaya mencapai 405 miliar shekel hingga akhir tahun ini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author