Israel dan Lebanon Gelar Perundingan Damai di Washington
Israel dan Lebanon dijadwalkan memulai perundingan putaran kelima di Washington DC pada Selasa (23/6) demi mengupayakan perdamaian, dilansir dari Detikcom. Langkah tersebut dilakukan di tengah kondisi gencatan senjata yang rapuh setelah konflik meluas sejak awal Maret akibat serangan Hizbullah.
Beirut mengupayakan negosiasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) ini secara mandiri tanpa keterlibatan Teheran. Meskipun wilayah Lebanon mulai kondusif sejak Sabtu (20/6), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan militer mereka tetap mempertahankan operasi di wilayah selatan.
"Iran menginginkan kami mundur dari wilayah itu, tetapi saya tetap teguh," kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Pemerintah Israel menegaskan komitmen mereka untuk terus mengamankan kawasan perbatasan dari ancaman kelompok militan.
"Kami akan mempertahankan kebebasan bertindak kami dan mempertahankan zona keamanan untuk melindungi warga" kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Di sisi lain, perundingan teknis antara AS dan Iran di Swiss juga telah berakhir dengan membuahkan usulan pembentukan beberapa kelompok kerja. Pembahasan ini berfokus pada pemulihan hubungan ekonomi dan pengawasan nuklir.
"akan dibentuk empat kelompok kerja, yaitu Penghentian Sanksi, Urusan Nuklir, Rekonstruksi dan Pembangunan Ekonomi, serta Pemantauan dan Implementasi." kata Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.
Terkait pengawasan jalur maritim, Iran mengumumkan bahwa pengelolaan Selat Hormuz kini berada penuh di bawah otoritas mereka. Keputusan ini bertolak belakang dengan tuntutan AS yang meminta pembukaan jalur logistik tersebut tanpa syarat.
"Semua pihak harus mengetahui bahwa administrasi Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti sebelum perang," kata Mohammad Bagher Ghalibaf, kepala negosiator Iran.
Teheran memastikan pemungutan biaya dan pendaftaran kapal akan diberlakukan melalui lembaga pertahanan maritim yang baru dibentuk.
"Tentu saja, peraturan internasional akan tetap dipatuhi, tetapi Iran akan mengelola Selat Hormuz." kata Mohammad Bagher Ghalibaf, kepala negosiator Iran.