Iran Tolak Buka Selat Hormuz Sebelum Tuntutan Perang Dipenuhi AS
Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan tidak akan membuka kembali akses lalu lintas Selat Hormuz hingga Amerika Serikat memenuhi seluruh syarat Teheran, termasuk pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang, Minggu (9/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Kawasan perairan strategis tersebut telah mengalami penutupan efektif oleh Iran sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel dilancarkan pada akhir Februari lalu. Iran juga merencanakan pemungutan biaya lintas serta menyerang kapal yang mencoba menghindari rute penetapan mereka.
Strategi penutupan tersebut ditegaskan oleh pihak militer sebagai langkah pertahanan utama di wilayah konflik maritim tersebut.
"hingga musuh menerima semua syarat kami… selat ini kini sebenarnya merupakan medan perang bagi kami, bukan sekadar jalur perairan," kata Garda Revolusi Iran.
Sementara itu, negosiasi mengenai penetapan rute maritim baru di jalur perairan tersebut sedang dilakukan bersama pihak Oman untuk menggantikan rute yang telah berlaku sejak tahun 1968. Peta rute teknis tersebut kini sedang disusun oleh para ahli.
"mendekati tahap akhir," kata Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Meski pembahasan teknis dengan Oman berjalan baik, hal tersebut tidak serta merta membuat jalur perdagangan internasional itu langsung beroperasi normal kembali.
"bergantung pada syarat-syarat lain dan kompensasi atas pelanggaran," kata Abbas Araghchi.
Pihak Teheran juga memastikan bahwa tidak ada dialog langsung yang digelar bersama Washington untuk menyelesaikan krisis perairan ini.
"saling bertukar pesan," kata Abbas Araghchi.
Menteri Luar Negeri Iran kembali menegaskan status operasional perairan tersebut di tengah proses penetapan jalur navigasi baru yang sedang dirancang.
"Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa Selat Hormuz dibuka kembali," kata Abbas Araghchi.
Sebelumnya, deretan tuntutan resmi telah diajukan oleh pejabat keamanan Iran sebagai prasyarat utama pembukaan kembali kawasan perairan vital tersebut.
Tuntutan Iran mencakup penghentian agresi terhadap sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak, serta pencabutan blokade balasan AS terhadap pelabuhan Iran, penghapusan sanksi, pencairan aset yang dibekukan, dan ganti rugi perang.
Rangkaian serangan yang berlanjut di perairan tersebut menyebabkan kesepakatan gencatan senjata pada April lalu mengalami kegagalan. Saat ini pihak mediator terus mendorong kedua belah pihak untuk kembali mematuhi nota kesepahaman bulan Juni guna memulai perundingan damai.