Iran Klaim Tembus Pertahanan Udara Militer Amerika Serikat

Share

Sistem pertahanan udara Amerika Serikat di Timur Tengah dilaporkan kewalahan menghadapi serangan kombinasi drone dan rudal balistik canggih Iran sejak 9 Juli 2026. Pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa sedikitnya sembilan fasilitas militer mereka mengalami kerusakan signifikan akibat gelombang serangan tersebut.

Laporan The Intercept mengungkapkan bahwa Iran memanfaatkan rudal balistik generasi baru berkecepatan hipersonik yang dilengkapi sistem navigasi kompleks dan fitur anti-jamming. Karakteristik ini membuat sistem pertahanan Patriot dan THAAD milik Amerika Serikat sulit melakukan pencegatan secara efektif.

Kondisi tersebut diperparah oleh menipisnya stok rudal pencegat milik Amerika Serikat. Pasukan militer Amerika Serikat kini dilaporkan hanya mencegat rudal atau drone yang mengancam langsung keselamatan personel guna menghemat amunisi yang tersisa.

Laporan Royal United Services Institute mencatat Amerika Serikat dan sekutunya telah menghabiskan lebih dari 11.000 amunisi dalam 16 hari pertama konflik. Sementara itu, Center for Strategic and International Studies memperkirakan butuh waktu lebih dari tiga tahun untuk memulihkan stok sistem Patriot dan THAAD.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Hossein Mohebbi, mengklaim bahwa efektivitas pertahanan udara lawan telah menurun drastis. Ia menyebutkan sejumlah pangkalan radar dan instalasi pertahanan militer Amerika Serikat berhasil dihancurkan dalam kurun waktu 8 hingga 22 Juli 2026.

Meskipun rekaman video dan citra satelit memperlihatkan kerusakan di sejumlah fasilitas seperti Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania dan Tower 22, Komando Pusat Militer Amerika Serikat menolak memberikan komentar resmi terkait tingkat kerusakan yang terjadi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author