Iran Ajukan Enam Syarat Buka Selat Hormuz ke Amerika Serikat
Pemerintah Iran mengajukan enam tuntutan utama kepada Amerika Serikat sebagai syarat mutlak sebelum bersedia membuka kembali akses pelayaran Selat Hormuz pada Minggu (9/8/2026). Langkah penutupan jalur strategis tersebut memicu lonjakan tensi militer kedua negara di kawasan perairan.
Eskalasi meningkat setelah militer Iran berupaya membatasi pergerakan armada tempur Washington di Selat Hormuz. Berdasarkan laporan CNN dan Wall Street Journal, Teheran secara aktif menghalangi kapal perang Amerika Serikat yang berniat melintasi perairan vital perdagangan minyak dunia tersebut.
Kepala Keamanan Nasional sekaligus Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menegaskan pembatasan armada militer di jalur tersebut merupakan bentuk ketegangan di lapangan. Teheran tidak akan mengubah kebijakan sebelum Washington mematuhi seluruh daftar persyaratan yang diajukan.
"Ini adalah tuntutan rakyat Iran, yang telah mereka suarakan dengan lantang selama 160 hari kehadiran mereka yang teguh di lapangan dan di jalanan," ujar Zolghadr.
Daftar persyaratan tersebut mencakup penghentian ancaman serta serangan militer secara permanen terhadap Iran dan sekutunya di Palestina, Lebanon, Yaman, dan Irak. Teheran juga menuntut penarikan penuh armada laut dan udara Amerika Serikat dari wilayah kedaulatannya, pembayaran kompensasi atas kerugian perang, pencabutan seluruh sanksi ekonomi, serta pengembalian aset keuangan Iran yang dibekukan di luar negeri.
"Selama Amerika tidak memperbaiki perilakunya, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali," kata Zolghadr.
Di pihak lain, seorang pejabat anonim mengonfirmasi keresahan di internal militer Amerika Serikat mengenai keberlanjutan konflik yang telah berlangsung selama enam bulan tersebut.
"Caine sedang mencari jalan keluar," ujar salah satu sumber yang mengetahui persoalan tersebut kepada CNN.
Kekhawatiran pejabat militer didasari oleh keterbatasan kekuatan udara serta menipisnya stok amunisi penting militer Amerika Serikat. Selain itu, negara-negara Teluk khawatir serangan balasan Iran dapat merusak infrastruktur energi kawasan.
Pemerintah Amerika Serikat melalui mediator menolak tegas tuntutan pembatasan pelayaran tersebut. Kendati demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran hampir mencapai kesepakatan dengan Oman terkait draf rute pelayaran sementara, yaitu jalur masuk di dekat wilayah Iran dan jalur keluar melalui perairan Oman.