Investasi Kawasan Ekonomi Khusus RI Tembus Rp353 Triliun

Share

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia mencatatkan total realisasi investasi kumulatif mencapai Rp353 triliun atau sekitar US$19,7 miliar sejak tahun 2012 hingga kuartal pertama tahun 2026. Capaian investasi yang tersebar di 25 lokasi KEK ini dilansir dari Detik Finance telah berhasil menyerap ratusan ribu tenaga kerja.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso menyatakan bahwa investasi tersebut berasal dari ratusan entitas bisnis yang beroperasi di seluruh Indonesia.

"Hingga kuartal pertama tahun 2026, KEK di Indonesia secara kumulatif merealisasikan investasi sebesar Rp 353 triliun, saya rasa sekitar US$ 19,7 miliar. Investasi tersebut telah menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 260.000 pekerja dan menarik 471 entitas bisnis yang beroperasi di 25 KEK di seluruh negeri," kata Susiwijono di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026).

Tingginya keterisian wilayah KEK mendorong sejumlah kawasan untuk mengajukan perluasan lahan, terutama pada tiga wilayah industri manufaktur terbesar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kepulauan Riau.

"Contoh di tiga KEK industri manufaktur, kemarin kita ambil contoh yang di KAEK Gresik, KEK Kendal, dan KEK Galang Batang. Ketiga KEK tersebut saat ini sedang kita proses untuk mengajukan perluasan kawasan. Jadi ada permohonan perluasan lahan dan pengembangan kawasan, rata-rata dua kali lipat yang ada sekarang," ucap Susiwijono.

Langkah pengembangan ini diambil guna memfasilitasi antrean investasi baru yang masuk ke kawasan-kawasan ekonomi tersebut.

"Karena yang ada sekarang sudah full utilized dan itu akhirnya beberapa investasi baru yang sudah mengantre di KEK, itu sekarang sedang kita siapkan area pengembangan baik terkait dengan perluasan lahan maupun pengembangan kawasan KEK," sambung Susiwijono.

Pemerintah memproyeksikan potensi investasi di sektor industri berbasis manufaktur ini dapat menembus angka ratusan triliun rupiah dalam beberapa tahun mendatang.

"Kampir semua KEK mengajukan, khususnya yang industri manufaktur besar, mengajukan permohonan perluasan dan sudah mengonfirmasi potensi untuk investasi, kalau nggak salah kemarin Rp 846 triliun dalam beberapa tahun di depan," papar Susiwijono.

Kondisi ini dipandang sebagai bukti nyata bahwa situasi penanaman modal langsung di dalam negeri masih sangat diminati oleh para investor global.

"Artinya iklim investasi di Indonesia masih sangat kondusif, dan masih sangat menarik bagi investasi secara langsung, foreign direct investment, khususnya di industri manufaktur," tandas Susiwijono.

Selain perkembangan sektor manufaktur, perluasan fungsi KEK juga merambah sektor pendidikan internasional melalui kerja sama strategis di Malang, Jawa Timur.

"IIM Bangalore, salah satu sekolah bisnis terkemuka di Asia dan lembaga pendidikan manajemen terkemuka di dunia, adalah mitra ideal dalam membentuk pemimpin bisnis, pengusaha, dan inovator masa depan Indonesia," kata Susiwijono.

Kolaborasi pendidikan ini diharapkan mampu mempererat hubungan bilateral kedua negara, terlebih India merupakan salah satu penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia.

"Penandatanganan ini juga terjadi pada momen penting dalam hubungan Indonesia-India, menyusul kunjungan Yang Mulia Presiden Prabowo sebagai tamu kehormatan pada Hari Republik India tahun lalu, dan Indonesia tahun ini menyambut kunjungan Yang Mulia Perdana Menteri Narendra Modi ke distriknya. Kerja sama ekonomi kita menunjukkan momentum yang sama," terang Susiwijono.

Aktivitas perdagangan bilateral antara Indonesia dan India tercatat tetap kuat dari tahun ke tahun dengan nilai ekspor yang mendominasi.

"India tetap menjadi salah satu mitra dagang utama Indonesia, dengan perdagangan bilateral mencapai US$ 23,2 miliar pada tahun 2025, dengan ekspor Indonesia ke India mendominasi sekitar US$ 18,3 miliar. Momentum ini berlanjut pada tahun 2026. Selama Januari hingga April 2026, total perdagangan antara Indonesia dan India mencapai US$ 7,9 miliar," sambung Susiwijono.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author