Inggris Adopsi Cetak Biru Penalti Southgate Hadapi RD Kongo

Share

Persiapan matang melalui skema adu penalti warisan Gareth Southgate menjadi fokus utama pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, menjelang laga krusial babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Republik Demokratik Kongo di Stadion Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, pada Rabu (1/7/2026).

Langkah ini diambil oleh Thomas Tuchel demi mengamankan kemenangan mutlak bagi timnas Inggris agar bisa melaju ke babak 16 besar turnamen tersebut. Pendekatan ini didasarkan pada keberhasilan Southgate yang mengubah catatan buruk penalti Inggris menjadi tiga kemenangan dari empat kesempatan sepanjang periode 2018 hingga 2024.

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dilaporkan telah memiliki program terstruktur yang matang terkait eksekusi penalti ini sejak beberapa tahun lalu. Pelatih asal Jerman tersebut memastikan bahwa anak asuhnya kini sedang mengikuti regulasi dan skema baku yang sudah berjalan.

"FA (Asosiasi Sepak Bola Inggris) memiliki program yang telah berjalan selama bertahun-tahun dan kami mengikuti program tersebut," kata Tuchel dikutip dari BBC Sport, Rabu (1/7/2026).

"Kami sudah siap. Kami punya proses, para pemain juga punya proses."

Kendati demikian, mantan pelatih Bayern Munchen tersebut tetap menyadari tingkat kesulitan yang tinggi saat para pemain berada langsung di dalam situasi pertandingan sebenarnya. Menurutnya, visualisasi dan tekanan di lapangan tidak akan pernah bisa sepenuhnya disamakan dengan agenda latihan reguler.

"Saya rasa sulit untuk mensimulasikan situasi (adu tembak)," lanjut pelatih kelahiran Krumbach pada 29 Agustus 1973 itu.

"Saya mendengar Thierry Henry mengatakan bahwa dia tidak ingat perjalanan dari garis tengah lapangan ke titik penalti dalam adu penalti pertamanya untuk Prancis – hal itu tidak bisa dilatih."

Mengenai penentuan daftar pemain yang akan maju sebagai penembak, tim kepelatihan Inggris sudah menetapkan urutan algoritma eksekutor secara mendalam. Masalah utama yang tersisa hanyalah kepastian mengenai siapa saja pemain yang masih bertahan di lapangan hingga akhir babak tambahan.

"Kami tahu siapa yang akan mengambilnya dan kami tahu urutannya, tetapi kami tidak tahu siapa yang akan menyelesaikan pertandingan," ujarnya.

Metode warisan Southgate ini juga diperkuat dengan persiapan psikologis, latihan memori otot, pendamping khusus penendang, serta riset arah bola musuh yang dibawa kiper Jordan Pickford di botol minumnya. Selain itu, kebijakan pergantian pemain sebelum babak tambahan berakhir juga disesuaikan pascaevaluasi final Euro 2020.

Di sisi lain, mantan manajer Chelsea tersebut menegaskan bahwa ia sama sekali tidak mementingkan aspek estetika permainan yang glamor dalam laga menghadapi RD Kongo. Strategi pertahanan rapat lawan yang menyerupai Panama dan Ghana membuat efektivitas hasil akhir menjadi target tunggal.

"Kita sebenarnya menghadapi lawan yang mirip dengan Panama dan Ghana di babak 32 besar," ungkap Thomas Tuchel.

"Kita akan melihat versi terbaik dari diri kita jika kita mampu melewati babak-babak selanjutnya dan melaju lebih jauh di turnamen ini, begitu tim-tim lain benar-benar ingin mengalahkan kita dan tidak menahan kita serta menolak untuk bermain melawan kita."

Inggris kini dibebani ekspektasi besar dari publik untuk memenangkan pertandingan perebutan tiket 16 besar tersebut. Pertandingan melawan tim asuhan Sebastien Desabre ini dinilai menjadi momen pembuktian kualitas individu dalam menyelesaikan target yang dibebankan.

"Kami berharap kami menang. Semua orang berharap kami menang. Jadi tidak banyak yang bisa dimenangkan selain memenuhi harapan kami."

"Saya rasa ini bukan saatnya untuk bersinar dan mengharapkan penampilan yang glamor."

"Ini adalah saatnya untuk terus maju, menyelesaikan pekerjaan, meningkatkan kemampuan, menunjukkan kualitas individu dan momen-momen kecil," pungkasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author