Inflasi Inti Jepang Melambat Menjadi 1,4 Persen pada April 2026
Kementerian Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang melaporkan pertumbuhan indeks harga konsumen (IHK) inti negara tersebut melambat menjadi 1,4 persen secara tahunan pada bulan April 2026. Data resmi ini menunjukkan penurunan laju inflasi yang lebih dalam dari perkiraan pasar akibat intervensi pemerintah dalam meringankan beban biaya hidup masyarakat.
Laju inflasi yang merosot ini dilansir dari Bloombergtechnoz berada di bawah seluruh estimasi ekonomi dalam survei Bloomberg. Jika komponen harga energi tidak diperhitungkan, IHK inti Jepang tercatat tumbuh 1,9 persen secara tahunan, yang mana angka tersebut juga berada di bawah ekspektasi pasar.
Penurunan laju inflasi dipengaruhi oleh harga makanan olahan yang tumbuh jauh lebih lambat dibandingkan bulan Maret dan penurunan tajam biaya sekolah menengah swasta. Laju kenaikan harga barang tahan lama juga mulai melandai bersamaan dengan penurunan biaya energi yang bergerak dalam ritme lebih lambat.
Kondisi inflasi yang melambat berpotensi mempersulit ekspektasi pasar terkait rencana Bank of Japan (BOJ) untuk menaikkan suku bunga pada bulan depan. Kendati demikian, otoritas moneter tetap mewaspadai perluasan tekanan inflasi di luar sektor energi sebagai dampak dari konflik bersenjata yang sedang berlangsung di Iran.
Sektor dunia usaha di Jepang terpantau terus membebankan kenaikan biaya tenaga kerja serta harga bahan baku kepada pihak konsumen. Laporan ekonomi tersebut juga menunjukkan harga beras mengalami kenaikan sebesar 0,6 persen secara tahunan, berbanding terbalik dari lonjakan tajam sebesar 98,4 persen pada April 2025.
Sementara itu, inflasi pada sektor jasa yang menjadi indikator utama BOJ dalam mengukur kekuatan fundamental harga melambat ke level 0,9 persen. Proyeksi internal BOJ memperkirakan inflasi akan meningkat signifikan pada tahun fiskal yang baru dimulai, sehingga beberapa anggota dewan menilai bank sentral harus menaikkan suku bunga.
Di sisi lain, pelemahan mata uang yen membuat biaya impor Jepang menjadi jauh lebih mahal meskipun pemerintah diduga telah melakukan beberapa kali intervensi pasar. Nilai tukar yen berada di angka rata-rata 159,18 per dolar AS pada bulan April, melemah dari periode yang sama tahun lalu di level 143,07 per dolar AS.
Mata uang Jepang juga gagal mendapatkan sentimen positif dari peringatan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama maupun dukungan Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara G-7 di Paris menjadi tempat kedua pejabat tersebut menyampaikan pernyataan mereka.
"dengan sukses" kata Scott Bessent, Menteri Keuangan AS.
Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela pertemuan G-7 agar Bank of Japan dapat menjalankan kebijakan moneternya dengan baik di tengah ketidakpastian global.