Inflasi Indonesia Juni 2026 Diproyeksi Naik Imbas Kenaikan Harga Pertamax
Laju inflasi Indonesia diperkirakan mengalami akselerasi pada Juni 2026. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax menjadi salah satu faktor pendorong utamanya, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan akan merilis data inflasi Juni 2026 pada Rabu (1/7/2026). Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg hingga Selasa (30/6/2026) pagi dari 23 analis menghasilkan median proyeksi inflasi Juni sebesar 3,2% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Jika proyeksi tersebut terwujud, angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08% yoy. Catatan ini juga akan menjadi inflasi tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Bahkan, Bloomberg Intelligence memprediksi inflasi domestik pada Juni dapat menyentuh 3,6% yoy. Tekanan harga ini dipicu oleh gejolak yang terjadi di pasar energi global.
Pada 10 Juni, PT Pertamina (Persero) telah mengerek harga Pertamax dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.
"Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," sebut Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama Pertamina, dalam keterangan resmi.
Di sisi lain, harga minyak dunia mulai bergerak turun seiring meredanya tensi di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai titik temu kesepakatan damai. Dalam satu bulan terakhir, harga minyak jenis brent merosot hampir 24%.
"Harga minyak dunia memang mundur teratur belakangan ini. Namun lonjakan sebelumnya tetap dirasakan di rantai pasok dunia. Dampaknya terasa di harga BBM Indonesia," sebut Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Intelligence.
Faktor lain yang ikut memicu inflasi adalah depresiasi nilai tukar rupiah. Pada bulan ini, mata uang Garuda sempat melemah hingga melampaui level Rp 18.000 per dolar AS.
"Pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan biaya impor," tambah Henderson.
Untuk jangka panjang, Henderson menilai laju inflasi domestik masih sulit diredam. Inflasi berpotensi melampaui target Bank Indonesia (BI) pada semester II-2026, di mana target setahun ini dipatok pada rentang 1,5-3,5%.
Kendati harga Pertamax melambung, inflasi Juni 2026 secara bulanan (month-to-month/mtm) diproyeksikan tetap terkendali. Konsensus Bloomberg yang melibatkan 13 ekonom menghasilkan median proyeksi inflasi sebesar 0,24% mtm.
Jika estimasi ini tepat, angka tersebut justru lebih rendah daripada inflasi bulanan Mei yang mencapai 0,28% mtm.
Terjaganya inflasi bulanan didukung oleh stabilitas harga bahan pangan pokok. Kenaikan harga Pertamax tidak berdampak signifikan terhadap sektor ini karena bukan merupakan jenis BBM untuk moda transportasi logistik dan distribusi.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan harga beras medium di mayoritas provinsi stabil sepanjang Juni. Bahkan, Papua mencatat penurunan drastis hingga 23,48%.
Hanya ada dua wilayah yang mengalami kenaikan harga beras medium, yakni Gorontalo sebesar 6% dan Jawa Timur sebesar 6,76%.
Sementara itu, harga daging ayam ras terpantau stabil di hampir semua daerah. Kenaikan hanya terjadi di Papua sebesar 4,56%.
Sebaliknya, harga daging ayam ras di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Gorontalo justru turun masing-masing sebesar 13,92%, 13,17%, dan 2,63%.
Tren stabilitas juga melanda komoditas telur ayam ras di hampir seluruh provinsi. Penurunan harga tercatat di Jawa Timur sebesar 16,35%, Jawa Tengah 14,75%, Gorontalo 4,61%, dan Papua 1,36%.
Untuk komoditas bawang merah, Papua menjadi satu-satunya provinsi yang mengalami kenaikan harga sebesar 9,89%. Wilayah lain cenderung stabil, bahkan melemah di Jawa Tengah sebesar 26,78%, Jawa Timur 21,8%, dan Gorontalo 4,39%.
Harga cabai merah besar juga aman di hampir semua wilayah, dengan penurunan signifikan di Jawa Timur sebesar 61,21%, Jawa Tengah 48,54%, dan Papua 27,48%.
Terakhir, harga cabai merah keriting bergerak stabil di mayoritas daerah bulan ini. Penurunan tajam dilaporkan terjadi di Jawa Tengah sebesar 49,41%, Gorontalo 31,06%, dan Papua 19,91%.