Industri Penerbangan Thailand Mulai Pulih usai Dihantam Krisis Global
Otoritas Penerbangan Sipil Thailand (CAAT) melaporkan penurunan drastis angka pembatalan penerbangan domestik di tengah pemulihan perlahan dari tekanan krisis energi global pada paruh pertama tahun 2026.
Kondisi positif ini menandai kebangkitan industri transportasi udara setempat setelah sempat tertekan akibat melonjaknya biaya operasional maskapai secara signifikan.
Informasi yang dilansir dari Detik Travel melalui laporan The Nation pada Minggu (7/6/2026) menunjukkan bahwa konflik bersenjata di Timur Tengah sempat memberikan dampak buruk bagi operasional udara.
Direktur Jenderal CAAT, Marsekal Udara Manat Chavanaprayoon, memaparkan besarnya dampak eksternal tersebut terhadap ketersediaan layanan penerbangan komersial.
"Dia mengatakan krisis tersebut sempat memicu pembatalan sekitar 3.840 penerbangan dan mengakibatkan hilangnya 1,2 juta kursi penumpang."
Tekanan dari luar negeri itu diperparah oleh krisis energi domestik yang memicu lonjakan harga avtur Jet A-1 hingga lebih dari 110 persen.
Kenaikan komponen bahan bakar yang membengkak dari 30 persen menjadi 50 persen dari total biaya operasional tersebut memicu kenaikan harga tiket rute populer seperti Bangkok-Chiang Mai hingga 45 persen.
Meskipun demikian, situasi terkini saat memasuki masa low season justru menunjukkan perbaikan kuat dengan penurunan drastis pengajuan pembatalan terbang oleh maskapai.
Angka pembatalan penerbangan diproyeksikan menurun dari puncaknya yang sempat menyentuh hampir 10.000 penerbangan pada Mei lalu menjadi hanya sekitar 2.000 penerbangan.
"Manat optimistis jika tidak ada insiden global tambahan pada bulan Juli dan Agustus, bisnis penerbangan Thailand diproyeksikan bakal pulih sepenuhnya saat memasuki masa high season (musim ramai terbang) pada Oktober mendatang."
Untuk mengantisipasi fluktuasi harga pada paruh kedua tahun 2026, CAAT mengimbau konsumen membeli tiket langsung via saluran resmi maskapai demi menghindari permainan harga agen luar negeri.
"Selain itu, Manat mengatakan saat ini maskapai penerbangan berpotensi masih akan melakukan penyesuaian jadwal sepanjang kuartal kedua hingga kuartal ketiga tahun 2026 ini."
Pihak otoritas meminta para pelaku perjalanan untuk tetap bersiap menghadapi potensi perubahan jadwal terbang yang sewaktu-waktu bisa diberlakukan oleh pihak maskapai.