Indonesia Butuh 50 Pabrik Bioetanol Tambahan untuk Target E20 2029
Pembangunan 30 hingga 50 pabrik bioetanol baru diperlukan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan bahan bakar nabati seiring target penerapaan campuran etanol 20 persen atau E20 secara nasional pada 2029.
Kebutuhan pasokan bioetanol berskala besar tersebut menuntut ketersediaan fasilitas produksi yang memadai, kesiapan sektor pertanian, hingga kepastian regulasi penyerapan bahan bakar di pasar domestik.
Saat ini, distribusi bensin beretanol di pasar ritel masih terbatas pada produk Pertamax Green 95 dengan kadar E5. Penjualannya baru mencakup 170 unit SPBU Pertamina yang tersebar di wilayah Jakarta dan Jawa Timur.
Berdasarkan data operasional per 1 Agustus 2026, Pertamax Green 95 dipasarkan dengan harga Rp16.600 per liter. Angka ini mencerminkan tahap awal komersialisasi bioetanol sebelum ekspansi ke skala nasional.
| Aspek | Status | Data Penting |
|---|---|---|
| Campuran bensin saat ini | E5 terbatas | Melalui Pertamax Green 95 |
| Jaringan penjualan | 170 SPBU | Jakarta dan Jawa Timur |
| Target campuran | E20 nasional | 2029 |
| Fasilitas produksi | Tambahan pabrik | Minimal 30 hingga 50 pabrik |
Sektor pertanian memegang peranan vital dalam menjamin pasokan bahan baku bioetanol, khususnya komoditas tebu dan singkong. Pemerintah juga menyiapkan proyek lumbung pangan di Papua untuk memasok molase atau tetes tebu sebagai bahan baku utama.
Langkah percepatan energi nabati diperkuat melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026 yang ditetapkan pada 3 Maret 2026. Aturan tersebut mewajibkan pencampuran bahan bakar nabati pada lima kategori produk, meliputi biodiesel subsidi, biodiesel nonsubsidi, bioetanol, diesel biohidrokarbon, dan bioavtur.
Sementara itu, Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM menetapkan Harga Indeks Pasar BBN bioetanol murni periode Agustus 2026 sebesar Rp11.695 per liter melalui pengumuman resminya. Kebijakan perluasan bioetanol ini juga berjalan beriringan dengan komitmen pemerintah untuk menjaga harga solar dan Pertalite bersubsidi tetap stabil hingga akhir tahun.