Impor Barang dari China Melonjak 18 Persen pada Awal 2026
Nilai impor barang dari China ke Indonesia mengalami lonjakan signifikan sebesar 18,21 persen secara year-on-year pada Januari 2026 dengan total mencapai US$7,89 miliar berdasarkan data Badan Pusat Statistik.
Lonjakan tersebut mencakup 43,75 persen dari total impor nonmigas nasional dan ikut mendorong kenaikan permintaan jasa forwarder hingga 31,48 persen pada awal tahun ini.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tren kenaikan ini terus berlanjut hingga kuartal pertama tahun 2026 dengan akumulasi nilai impor total Indonesia mencapai US$61,30 milar.
Produk konsumer dengan perputaran cepat seperti sepatu, tas, aksesoris gadget, pakaian, dan perlengkapan fashion menjadi komoditas utama yang paling banyak didatangkan oleh para pelaku UMKM serta reseller online.
Peningkatan aktivitas belanja digital dan metode live shopping menjadi faktor pendorong utama bagi para pelaku usaha untuk mendatangkan barang secara langsung melalui jalur laut, udara, maupun layanan express.
"Kebutuhan pebisnis Indonesia terhadap layanan impor dari China terus meningkat, terutama untuk volume kecil hingga menengah. Pebisnis kini bisa memilih jalur sesuai kebutuhan, mulai dari sea cargo yang ekonomis hingga express untuk pengiriman cepat," ujar Head of Import Natindo Cargo Samuel Andrew dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).
Perusahaan jasa pengiriman yang telah melayani lebih dari 4.800 importir ini mencatat bahwa skema pengiriman door to door menjadi pilihan yang paling diminati karena memberikan kepastian biaya logistik sejak awal proses.
"Kebutuhan pebisnis Indonesia terhadap layanan impor dari China terus meningkat, terutama untuk volume kecil hingga menengah. Kami ingin pelaku UMKM bisa fokus berjualan, sementara seluruh proses pengiriman dari China hingga ke alamat mereka kami yang urus," ujar Head of Import Natindo Cargo Samuel Andrew dalam keterangan resmi, Jumat (29/5).
Pertumbuhan sektor perdagangan daring dan kebiasaan konsumen berbelanja produk impor melalui platform digital diperkirakan akan membuat tren peningkatan volume impor dari China ini terus berlanjut sepanjang tahun.