Ilmuwan China Diperiksa Setelah Bocah 6 Tahun Meninggal Terapi Gen Eksperimental

Share

Dunia sains diguncang skandal etika medis setelah seorang bocah perempuan berusia 6 tahun meninggal akibat reaksi imun parah usai menjalani terapi penyuntingan gen eksperimental di Universitas Shanghai Jiao Tong, China, seperti dilansir dari Detik Health.

Korban bernama Mei meninggal dalam tujuh hari setelah menerima suntikan terapi genetik yang dirancang untuk mengoreksi mutasi genetik langka yang mengganggu perkembangan sarafnya.

Uji klinis dipimpin oleh Qiu Zilong, pakar ilmu saraf dari Pusat Otak Universitas Shanghai Jiao Tong. Suntikan mengandung triliunan virus pembawa penyunting gen disuntikkan ke cairan tulang belakang Mei pada Maret tahun lalu.

Orang tua Mei mendanai seluruh proyek dengan dana pribadi mencapai 860.000 dolar AS (sekitar Rp13,9 miliar) dengan harapan menyembuhkan anak mereka.

"Mempelajari kenyataan tentang hilangnya perlindungan keselamatan ini secara fundamental telah mengubah cara kami memandang seluruh proyek riset ini," ujar ayah Mei kepada Science.

Dugaan penutupan informasi muncul karena kematian Mei tidak dicantumkan dalam publikasi hasil eksperimen di jurnal Nature. Data uji coba pada hewan monyet yang mengalami kerusakan organ juga disembunyikan.

Komite Etika Rumah Sakit Xinhua menyimpulkan kematian Mei "pasti berkaitan langsung" dengan terapi tersebut, namun rumah sakit hanya dikenakan denda administratif ringan sebesar 24.000 yuan (sekitar Rp53 juta) tanpa sanksi publik terhadap Qiu Zilong.

Setelah desakan ilmuwan dunia, Sekolah Kedokteran Universitas Shanghai Jiao Tong membentuk tim khusus guna menyelidiki dugaan pelanggaran etika medis dan kecurangan publikasi riset Qiu Zilong.

"Sekolah kedokteran selalu menghargai integritas dan standar penelitian, serta secara tegas menentang penelitian medis yang melanggar etika dan regulasi riset," tegas pihak universitas dalam pernyataan resmi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author