IHSG dan Rupiah Melemah Imbas Kebijakan Tarif Impor Amerika Serikat

Share

Pasar keuangan domestik bergerak di zona negatif pada awal perdagangan perdagangan Senin, 27 Juli 2026, menyusul pelemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tekanan ini dipicu oleh pemberlakuan tarif impor baru oleh Amerika Serikat serta dinamika kepemimpinan di Bank Indonesia.

Data perdagangan menunjukkan nilai mata uang rupiah merosot 9 poin atau sekira 0,05 persen ke posisi Rp17.972 per dolar AS. Penurunan ini memperpanjang tren koreksi dari akhir pekan lalu, saat rupiah ditutup melemah dari level Rp17.936 menjadi Rp17.963 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa merosotnya nilai mata uang domestik dipengaruhi oleh kebijakan proteksionisme perdagangan dari Washington. Pemerintah AS secara resmi menerapkan tarif baru sebesar 10 hingga 12,5 persen bagi puluhan negara mitra dagang.

“Trump resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap barang dari 60 mitra dagang mulai Jumat (24/7). Kebijakan tersebut menetapkan tarif sebesar 10 persen dan 12,5 persen terhadap berbagai produk impor, termasuk barang asal Indonesia,” ucap Ibrahim Assuaibi dikutip Antara News.

Selain faktor tarif dagang Donald Trump, penguatan mata uang dolar AS juga disokong oleh rilis data tenaga kerja di negara tersebut yang membaik, di mana klaim pengangguran awal merosot ke level 187 ribu. Sementara dari dalam negeri, pasar merespons pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia.

Merespons situasi tersebut, Bank Indonesia langsung menunjuk Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas pimpinan bank sentral setelah menggelar Rapat Dewan Gubernur pada Minggu (26/7/2026). Destry memastikan otoritas moneter akan tetap menjaga volatilitas pasar.

Sentimen negatif global ini turut menekan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia. Pada bel pembukaan, IHSG langsung terkoreksi 10,63 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.185,80, sementara indeks saham unggulan LQ45 turun 0,34 persen ke level 612,72.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai fluktuasi indeks acuan masih berada dalam batasan wajar. Menurutnya, pergerakan ini mencerminkan sikap wait and see para pelaku pasar yang mencermati hasil pertemuan The Fed pada 28-29 Juli 2026.

Di tengah tekanan indeks, penurunan harga minyak mentah Brent ke level 87 dolar AS per barel dinilai menjadi katalis positif yang mampu menahan kejatuhan pasar saham lebih dalam.

"Terdapat sentimen positif yang berpotensi membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel,” papar Hendra Wardana.

Hendra menambahkan bahwa pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia ke tangan pelaksana tugas baru memberikan kepastian bagi pelaku pasar bahwa arah kebijakan moneter nasional akan tetap terjaga secara berkesinambungan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author