IHSG Merosot 2,42 Persen Dipicu Anjloknya Saham Grup Barito
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 2,42 persen hingga akhir perdagangan sesi pertama pada Selasa, 30 Juni 2026. Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, indeks ditutup pada level 5.679 pada perdagangan siang.
Pelemahan ini dipicu oleh kemerosotan harga saham emiten-emiten yang berada di bawah naungan Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu. Saham-saham tersebut meliputi CUAN, BREN, BRPT, PTRO, dan TPIA.
Aktivitas perdagangan hingga siang hari mencatatkan total transaksi mencapai Rp7,52 triliun. Volume saham yang ditransaksikan menyentuh 12,43 miliar lembar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 903 ribu kali.
Sejalan dengan koreksi di pasar saham, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut mengalami pelemahan sebesar 0,29 persen. Mata uang garuda tertekan hingga menyentuh level Rp17.899 per dolar AS.
IHSG terus bergerak di zona merah sepanjang sesi pertama dengan titik terendah mencapai level 5.638. Adapun rentang pergerakan indeks berada di antara level 5.811 hingga 5.638.
Sektor barang baku, energi, dan perindustrian menjadi beban utama pergerakan indeks dengan penurunan masing-masing sebesar 4,29 persen, 3,31 persen, dan 2,67 persen.
Pada sektor barang baku, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) merosot 8,98 persen, diikuti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang anjlok 7,61 persen. Sementara itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 6,14 persen dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melemah 4,37 persen.
Emiten terafiliasi Prajogo Pangestu lainnya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Petrosea Tbk (PTRO), kompak terkoreksi 4,27 persen. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga melemah sebesar 3,21 persen.
Koreksi juga melanda indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan dengan penurunan 2,39 persen ke posisi 559,29. Saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melemah 6,53 persen, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) turun 6,49 persen, dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menyusut 5,67 persen.
Penurunan juga menimpa saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 5,45 persen, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) sebesar 5,26 persen, serta PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang turun 4,85 persen.
Kondisi ini berbeda dengan bursa regional Asia yang mayoritas bergerak menguat dipimpin oleh TW Weighted Index di Taiwan dan KOSPI di Korea Selatan. Bursa lain seperti Shenzhen Composite, NIKKEI 225, CSI 300, Topix, SETI, Ho Chi Minh Stock, KOSDAQ, KLCI, dan Shanghai Composite juga berada di zona hijau.
Sebaliknya, Hang Seng, PSEi, Straits Times, dan SENSEX harus rela tergelincir ke zona merah bersama dengan IHSG.
Phillip Sekuritas Indonesia menyatakan bahwa penguatan di bursa Asia didorong oleh putusan Mahkamah Agung AS terkait independensi Federal Reserve (The Fed) serta meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Mahkamah Agung AS memutuskan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook tetap menjabat untuk saat ini, menolak upaya pemberhentian dari Pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Di sisi lain, AS dan Iran sepakat menghentikan perselisihan di Teluk Persia serta melanjutkan dialog terkait Selat Hormuz di Doha, Qatar. Langkah ini membuka harapan untuk menyelamatkan kesepakatan damai sementara yang sempat tegang akibat aksi saling serang.
Fokus pelaku pasar global pada pekan ini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) bulan Juni yang akan diterbitkan pada hari Kamis sebagai panduan kebijakan moneter The Fed selanjutnya.