IHSG Meroket 5,03 Persen ke Level 6.309,72 pada Sesi I
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan lonjakan besar sepanjang perdagangan paruh pertama. Penguatan indeks saham domestik ini berjalan selaras dengan tren positif yang terjadi di mayoritas bursa saham global.
Dilansir dari Detik Finance, data RTI Business menunjukkan IHSG melesat 5,03 persen ke level 6.309,72 hingga penutupan sesi I perdagangan. Pergerakan zona hijau ini juga diikuti oleh sejumlah bursa saham utama di Asia.
Indeks Nikkei 225 (N225) tercatat naik 4,96 persen ke level 69.295,39, diikuti Hang Seng Index (HSI) yang menguat 0,58 persen ke posisi 24.857,22. Selanjutnya, Shanghai Composite Index (SSEC) terkerek 0,94 persen ke 4.069,21, dan Straits Time Index (STI) tumbuh 1,07 persen menuju level 5.079,37.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pergerakan kuat IHSG didorong oleh sentimen global. Kondisi ini terjadi setelah adanya kesepakatan damai untuk menyudahi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
"Penguatan IHSG memang sejatinya dipengaruhi oleh faktor global, sebenarnya lebih dominan global ya, karena kita lihat di regional pun juga terapresiasi dengan baik," ungkap Nafan.
Nafan menyebutkan bahwa perjanjian damai tersebut berimplikasi pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Dampak langsungnya terlihat pada harga minyak dunia yang terpantau merosot hingga lebih dari 4 persen, sehingga meredakan kekhawatiran investor terhadap inflasi global.
Pada aspek domestik, pelaku pasar merespons positif pembatalan skema kontrak bagi hasil (gross split) serta adanya relaksasi RKAB pada sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba). Investor juga sedang mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) minggu ini.
"Kelanjutan dari passion regulasi ya, misalnya seperti pembatalan skema gross split dan potensi relaksasi RKAB di sektor minerba, ya. Ini sebelumnya juga sempat memberikan nafas lega bagi market ya sejak pekan yang lalu," imbuhnya.
Kondisi teknikal indeks saham dalam negeri sebelumnya sempat berada di bawah nilai wajar atau oversold ketika menembus level 5.400. Saat ini, IHSG memasuki tren pembalikan arah dengan akumulasi penguatan mencapai 18,11 persen dalam lima hari perdagangan terakhir.
"IHSG sendiri memang sudah oversold disaat menyentuh 5.400 an dan saat ini sedang dalam fase rebound," ungkap Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana.
Kendati demikian, Wawan mengingatkan adanya risiko aksi ambil untung atau profit taking jika muncul sentimen negatif baru. Potensi penahan laju penguatan ini bisa datang dari kembali meningkatnya ketegangan AS-Iran atau hasil pertemuan FOMC pekan ini.
Faktor utama penggerak indeks saat ini tetap bersumber dari kesepakatan damai kedua negara tersebut yang menumbuhkan harapan kelancaran jalur Selat Hormuz. Penurunan harga minyak bumi berimbas positif bagi Indonesia karena dapat mengurangi beban subsidi fiskal negara.
"Tentu saja dengan kenaikan yang signifikan dalam 1 minggu, sangat mungkin akan terjadi profit taking bila katalis negatif datang," pungkasnya.