IHSG Melemah ke 6.365 Saat Saham CMRY dan IFSH Cetak Laba

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (10/8) di zona merah setelah mengalami penurunan sebesar 0,69 persen. Koreksi ini membawa indeks domestik menempati level 6.365,37, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Pergerakan pasar saham domestik diwarnai pelemahan pada 10 dari 11 sektor, dengan sektor Non-Cyclicals mencatat penurunan paling dalam sebesar 1,37 persen. Sebaliknya, sektor Transportation tampil sebagai satu-satunya sektor yang bertahan di zona hijau dengan lonjakan 6,21 persen.

Sejumlah saham utama berperan sebagai penggerak IHSG, di antaranya SMMA yang melesat 2,03 persen, MDKA naik 3,40 persen, serta EMAS terkerek 2,01 persen. Namun, laju indeks tertahan oleh pelemahan TLKM sebesar 3,32 persen, BBRI terkoreksi 1,28 persen, dan BREN merosot 3,99 persen.

Aktivitas investor asing menunjukkan dinamika berlawanan di pasar reguler dan keseluruhan pasar. Di pasar reguler, pemodal asing membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp875,51 miliar, tetapi mencatatkan beli bersih (net buy) secara keseluruhan sebesar Rp829,70 miliar.

Tekanan di pasar domestik sejalan dengan penutupan bursa saham Amerika Serikat yang berakhir melemah. Indeks Dow Jones tercatat turun 0,11 persen ke level 53.975, S&P 500 melorot tipis 0,06 persen ke 7.753, dan Nasdaq tergerus 0,32 persen ke 26.605.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menambahkan kolom afiliasi pada data kepemilikan saham di atas 1 persen. Rencana kebijakan tersebut menjadi sorotan pelaku pasar karena diyakini memberikan transparansi lebih terkait struktur kepemilikan dan transaksi afiliasi, di tengah penurunan ETF EIDO sebesar 1,24 persen dan indeks MSCI Indonesia yang melemah 1,05 persen.

Di tengah pelemahan IHSG, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 17,88 persen pada semester I-2026. Perseroan mengantongi laba Rp1,17 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp993,87 miliar.

Kenaikan laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang melambung 25,50 persen YoY menjadi Rp6,46 triliun dari sebelumnya Rp5,14 triliun. Segmen Dairy menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan 54 persen YoY, diikuti segmen Consumer Foods sebesar 10 persen YoY.

Perluasan pasar ekspor serta pengembangan produk menjadi pendorong utama kinerja bisnis perseroan. CMRY memperluas jangkauan ekspor ke Vietnam pada Mei 2026, melengkapi pasar internasional lainnya seperti Filipina, Kamboja, Malaysia, Brunei, Timor Leste, dan Maladewa.

CMRY juga terus mengembangkan Cimory Yogurt Cafe guna memperkuat interaksi dengan konsumen. Dari analisis teknikal, pergerakan saham CMRY saat ini berada dalam fase konsolidasi pada rentang Rp4.550 hingga Rp4.810.

Sementara itu, PT Itama Ranoraya Tbk (IFSH) sukses membalikkan kinerja keuangan dengan meraup laba bersih Rp46,18 miliar pada semester I-2026, setelah sempat menanggung rugi Rp6,17 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Pemulihan kinerja IFSH didorong kenaikan penjualan neto sebesar 88,56 persen YoY menjadi Rp634,29 miliar dari Rp336,37 miliar. Hal ini mengerek laba bruto perseroan menjadi Rp291,02 miliar, melonjak lebih dari empat kali lipat dibanding Rp65,27 miliar pada semester I-2025.

Meskipun beban pokok penjualan naik menjadi Rp343,27 miliar dari Rp271,10 miliar, kontribusi lini bisnis pertambangan dan pengolahan nikel tetap mendominasi pendapatan sebesar Rp540,16 miliar atau 85,2 persen. Sisa pendapatan disumbang oleh jasa pertambangan dan bisnis lainnya senilai Rp94,09 miliar atau 14,8 persen.

Secara teknikal, saham IFSH berpeluang melanjutkan tren penguatan jangka pendek apabila berhasil menembus pola Falling Wedge, dengan area perhatian di level Rp1.235.

TAPG Bagikan Dividen Interim

Langkah korporasi turut dirilis oleh PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang memutuskan pembagian dividen tunai interim sebesar Rp60 per saham. Total nilai dividen yang disalurkan pemegang saham mencapai kisaran Rp1,19 triliun.

Besaran dividend payout ratio tersebut mencapai 58,33 persen dari total laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada semester I-2026 sebesar Rp2,04 triliun. Keputusan ini telah mengantongi persetujuan Dewan Komisaris melalui Keputusan Sirkuler pada 30 Juli 2026.

Sepanjang semester I-2026, TAPG mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 6,33 persen YoY menjadi Rp5,86 triliun dari Rp5,51 triliun. Laba bersih perseroan turut terkerek 20,42 persen YoY menjadi Rp2,04 triliun dibanding Rp1,69 triliun pada semester I-2025, yang mendorong laba per saham (EPS) naik menjadi Rp103 dari Rp85.

Pada perdagangan Senin (11/8), harga saham TAPG ditutup pada level Rp1.810 per saham, sehingga memberikan kisaran dividend yield sebesar 3,31 persen. Jadwal cum date dividen telah ditetapkan pada 11 Agustus 2026, sedangkan eksekusi pembayaran dividen dilaksanakan pada 31 Agustus 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author