IHSG Melemah Hari Selasa Ini Dorong Pimpinan DPR dan Danantara Sidak BEI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026) seiring sikap investor yang menunggu kepastian kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Kondisi pasar modal domestik tersebut mendorong Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama jajaran pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melakukan kunjungan mendadak ke Bursa Efek Indonesia pada hari yang sama.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG dibuka turun tipis 0,03 poin atau 0,00 persen ke posisi 6.599,21, sementara indeks LQ45 menyusut 0,60 poin ke level 650,49.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menjelaskan bahwa fluktuasi indeks saham kali ini dipengaruhi oleh sentimen domestik maupun global.
"Diperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.400- 6.700," ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Tekanan terhadap mata uang Rupiah memicu proyeksi bahwa Bank Indonesia berpotensi menaikkan BI-Rate dalam rapat dewan gubernur yang berlangsung pada Selasa (18/05) dan Rabu (19/05) demi menjaga daya tarik investasi asing.
Meskipun pasar saham sedang bergejolak, Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani menegaskan bahwa institusinya tetap melihat penempatan dana di pasar modal sebagai strategi jangka panjang.
“Kalau kita lihat investasi di bursa buat kami di Danantara ini adalah investasi jangka panjang,” ujar Rosan usai melakukan kunjungan ke Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Rosan menambahkan bahwa fundamental emiten-emiten pelat merah masih sangat solid, terutama pada sektor perbankan Himbara dan industri pertambangan mineral.
“Kalau kita lihat BUMN yang ada di bursa satu per satu, contohnya Himbara ataupun mineral kita, yield-nya sangat baik di atas 10-11 persen,” kata Rosan.
Pihak Danantara juga memberikan apresiasi terhadap langkah-langkah pembenahan tata kelola dan transparansi yang terus dijalankan oleh OJK serta BEI.
“Ini adalah suatu proses yang kami meyakini akan menimbulkan kepercayaan sehingga bursa kita menjadi jauh lebih baik ke depannya,” ujarnya.
Pertumbuhan jumlah investor domestik yang kini telah menyentuh angka 26 juta hingga 27 juta orang dinilai menjadi indikator nyata dari prospek positif pasar saham Indonesia.
“Logikanya peningkatan ini terjadi karena investor yakin bahwa bursa kita makin baik ke depannya dan promising,” tutur Rosan.
Di sisi global, pasar juga dipengaruhi oleh penguatan harga minyak dunia di atas 2 persen serta kenaikan yield obligasi pemerintah AS (U.S. 10-year Bond Yield) ke level 4.601 persen setelah adanya dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah.